Di Pangkalpinang, beberapa kali terjadi debat anatara Ahmadi dan non-ahmadi, kemudian hasilnya diekspos di Harian Lokal. Tapi tidak ada berita yang memihak Ahmadiyah. Saya pernah bikin semacam artikel pembelaan, tapi tidak dimuat di harian lokal tersebut.
Kemudian terjadi debat lagi, diekspos di koran lagi, tapi tetap nadanya mirin. Maka saya coba membuat pembelaan dengan gaya bahasa miring, tapi tetap juga tidak dimuat di koran. so di muat di koran pribadi saja
Majelis Ulama Indonesia dalam Munas II tahun 1980 menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah Jamaah di luar Islam, sesat dan menyesatkan. Fatwa yang sama dikeluarkan pada tahun 2005 dalam suatu Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia melalui Musyawaran Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426H/ 26-29 Juli 2005 M yang dituangkan dalam Surat Keputusan MUI Nomor: 11/Munas VII/MUI/15/2005.
Bukan hanya di Indonesia, jauh sebelumnya sudah ada keputusan serupa dalam level internasional. Pada tahun 1974, ulama Islam dari 124 negara menyelenggarakan pertemuan di Mekah yang diprakarsai oleh LigaMuslim Dunia (Rabithah al Alam al Islami). Pertemuan itu menghasilkan keputusan bahwa tokoh dan pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad dan para pengikutnya adalah ingkar.
Keputusan baik nasional maupun internasional tersebut diambil karena ajaran-ajaran yang dikembangkan oleh Ahmadiyah berbeda dengan mainstream kaum muslimin di seluruh dunia (selanjutnya penulis akan menyebutMainstream Kaum Muslimin di Seluruh Dunia dengan Non-Ahmadi). Beberapa ajaran Ahmadiyah yang menyimpang manurut Non Ahmadi antara lain:
Ahmadiyah/Qadianisme meyakini adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW, sedangkan Non-Ahmadi berdasarkan al Qur’an Karim menyatakan sesudah Nabi Muhammad tidak akan ada lagi Nabi yang diturunkan. “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. (QS. al Ahzab: 40)
Atas tuduhan ini dalam bukunya Mirza Ghulam Ahmad (MGA) memberi bantahan:
“Inti dan saripati agama kami tersimpul dalam kalimah: LaaIlaaha Illallaah Muhammadur Rasuulullah. Itikad yang kami anut di dunia dan dengan karunia serta taufik Allah, bersama kalimat itu kami akan berlalu dari alam fana ini kelak, ialah Sayyidina wa Maulana Muhammad Musthafa shallallaahu‘alaihi wasallam adalah Khaataman-Nabiyyiin. Di tangan beliau agama telah menjadi genap dan nikmat Allah telah mencapai derajat yang sempurna. Dengan perantaraan agama itu manusia berjalan di atas jalan yang lurus dan dapat mencapai hadhirat AllahTa’ala…” (Izalah Auham, hlm. 169-170)
Berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an Karim Surat
1:6, Tunjukilah kami jalan yang lurus
1:7, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat
4:68, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus
4:69, Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang- orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya
22:75, Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat
(memilih fi’il mudhori, berarti untuk masa kini dan masa yang akan datang)
3:179, Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mu’min). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allahmemilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya
(memilih fi’il mudhori, berarti untuk masa kini dan masa yang akan datang)
6:124, Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah”. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.
7:35, Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Apakah anda bukan anak-anak Adam? Anak-anak Adam ada sampai kiamat.
44:5, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul,
(mengutus fi’il mudhori, berarti untuk masa kini dan masa yang akan dating)
Menurut ahmadiyah makna QS 33:41 menjadi aneh kalau Khataman Nabiyyin diartikan sebagai “penutup para Nabi”.
Firman Allah tersebut asbabun nuzulnya adalah ketika Nabi menikahi Zainab, janda dari anak angkatnya Zaid. Hal tersebut merupakan perbuatan memalukan pada jaman tersebut, karena pada jaman jahiliyah anak angkat sama dengan anak kandung. Nabi Muhammad menikahi janda anak angkatnya, maka Nabi Muhammad dicap oleh kaum Quraish saat itu “telah melakukan perbuatan memalukan”. Ayat ini diturunkan dengan tujuan untuk membersihkan Nabi Muhammad. Bisakah perbuatan memalukan dibersihkan dengan menyebut Nabi Muhammad “Penutup Para Nabi” ?
Ahmadiyah memaknai Khataman Nabiyyin sebagai Nabi yang paling afdhol, Nabi yang paling mulia, Nabi yang terunggul dari semua Nabi, Nabi yang mengesahkan kenabian seluruh para Nabi (dimana Allah meminta semua Nabi dari Adam sampai Nabi terakhir di akhir jaman bersama umat-umatnya bersaksi pada Nabi Muhammad – QS 3:81). Nabi Muhammad memang bukan Bapak seorang lelaki, tetapi ia adalah Bapak Ruhani semua bangsa, darinya akan lahir anak-anak ruhani yang berpangkat orang-orang saleh, orang-orang yang mati syahid, para shadiqin, nabi-nabi (QS 4:69)
Khataman adalah istilah umum yang artinya bukan hanya “penutup” :
Hadhrat Ali r.a. adalah “khaatam-ul-auliya” (Tafsir Saafi, padaSurah al-Ahzab) Apakah setelah Hz. Ali r.a. wafat tidak adaauliya (wali) lagi? Tentu tidak. Banyak kemudian hadir waliwali
Imam Syafi’i r.h. (Tafsir Saafi, pada Surah al-Ahzab) 767-820) juga disebut “khaatam-ul-auliya” (AlTuhfatus-Sunniyya, hlm. 45)
Habib Shirazi juga dihormati sebagai “khaatam-usy-syu’araa” di Iran (Hayati Sa’adi, hlm. 87)
Abu Tamaam (804-845), seorang penyair yang dijuluki sebagai“khaatam-usy-syu’araa” (Dafiyaatul A’ayaan, vol. 1, hlm. 123,Kairo). Apakah setelah Habib Shirazi dan Abu Tamaam wafat tidak ada penyair lagi? Tentu tidak. Banyak kemudian hadir penyair-penyair terkenal dalam dunia Islam.
Imam Muhammad Abduh dari Mesir digelari “khaatam-ula’imma”( Tafsir Saafi,Tafsir Al-Fatihah, hlm. 14 Apakah tidak ada lagi pemimpin (Imam) agama setelah Muhammad Abduh?
Al-Sayyid Ahmad Al-Sanusi dinamakan “khaatam-ulmujahidiin”(Akhbaar Al-Jaami’atul Islamiyyah, Palestina, 27 Muharram 1352 H) Apakah Sayyid Ahmad Sanusi merupakan mujahid terakhir/penutup di Palestina?
Dalam Bible bahasa Arab kita temukan kata “khaatam-ulkamaal”(gambar kesempurnaan). Kita lihat dalamYehezkiel 28:12 versi bahasa Indonesia sebagai berikut:“Hai anak manusia, ucapkanlah suatu ratapan mengenai raja Tirus dankatakanlah kepadanya: Demikianlah firman Tuhan Allah: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah.”( Lembaga Alkitab Indonesia,Alkitab, (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia,199
Dalam Hadits kita temukan “khaatam-ul-muhajiriin.” Rasulullahs.a.w. bersabda: “Tentramlah wahai pamanku, sesungguhnyaengkau adalah khaatam-ul-muhajiriindalam hijrah, sebagaimana aku adalah khaataman-nabiyyiin dalam kenabian.” (H. R. Ibnu Asakir dan Kanzul‘Ummal, Alaudin Alhindi, Muassatur Risalah,Beirut, 1989, jld.
XIII, hlm. 519, Hadits no. 37339) Apakah setelah Hz. Abbas r.a. tidak ada lagi orang yang berhijrah ke Medinah? Apakah Hz. Abbas r.a. adalah orang yang terakhir berhijrah keMedinah? Tentu tidak.
Kitab Suci ahmadiyah adalah Tadzkiroh. Non Ahmadiyah meyakini bahwa wahyu adalah setiap perkataan Allah SWT kepada Nabi dan Rasul. Setiap wahyu yang diturunkan oleh Allah adalah syari’at. Jika ada orang yang mengaku menerima wahyu, berarti dia menganggap dirinya Nabi. Dan karena dia mengaku menerima wahyu, berarti dia membawa syariat.
MGA mengaku menerima wahyu, berarti dia mengakui dirinya seorang Nabi yang turun setelah berlalunya Nabi Muhammad. Wahyu-wahyu yang dia terima dibukukan dalam kitab yang diberi nama Tadzkiroh, berarti Tadzkiroh adalah kitab syariat, berarti Tadzkiroh adalah kitab suci orang ahmadiyah.
Ahmadiyah meyakini bahwa Allah tidak hanya bercakap-cakap dengan Nabi. Allah bercakap-cakap dengan Firaun, bercakap-cakap dengan semut, bercakap-cakap dengan lebah, bercakap-cakap dengan Maryam. Apakah Firaun, semut, lebah, dan Maryam adalah Nabi yang punya kitab syariat?
Non Ahmadi menyebut segala perkataan Allah SWT kepada Firaun, semut, lebah, dan Maryam itu bukan wahyu, tetapi adalah “pengajaran/ilham/irsyad”
Ahmadi memberi istilah atas “pengajaran/ilham/irsyad” tersebut dengan istilah “wahyu non syariat”
Wahyu yang diterima MGA sama dengan wahyu yang diterima oleh Maryam, Semut, Lebah, Firaun. MGA menerima wahyu-wahyu yang kemudian menjadi dasar dia mengarang kurang lebih 86 buah buku. Tiga puluh tahun setelah MGA meninggal Muhammad Zafrullah Khan (mantan Hakim Mahkamah Agung Internasional/PBB) mengumpulkan semua wahyu yang diterima MGA yang tersebar di 86 buku kemudian menyusunnya ke dalam satu kitab yang diberi nama “Tadzkiroh” yang dalam bahasa Arab artinya “Pengajaran”
MGA menyatakan ““Tidak ada kitab kami selain Qur’an Syarif. Dan tidak ada rasul kami kecuali Muhammad Musthafa shallallaahu ‘alaihiwasallam. Dan tidak ada agama kami kecuali Islam. Dan kita mengimani bahwa nabi kita s.a.w. adalah Khaatamul Anbiya’, dan Qur’an Syarif adalah Khaatamul Kutub. Jadi, janganlah menjadikan agama sebagai permainan anak-anak. Dan hendaknya diingat, kami tidak mempunyai pendakwaan lain kecuali sebagai khadim Islam. Dan siapa saja yang mempertautkan hal [yang bertentangan dengan] itu pada kami, dia melakukan dusta atas kami. Kami mendapatkan karunia berupa berkat-berkat melalui Nabi Karim s.a.w. Dan kami memperoleh karunia berupa makrifat-makrifat melalui Qur’an Karim. Jadi, adalah tepat agar setiap orang tidak menyimpan di dalam kalbunya apa pun yang bertentangan dengan petunjuk ini. Jika tidak, dia akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah Ta’ala. Jika kami bukan khadim Islam, maka segala upaya kami akan sia-sia dan ditolak, serta akan diperkarakan.” (Maktubaat-e-Ahmadiyyah, jld. 5, no. 4)
Jadi para Ahmadi tetap bebal mengakui bahwa Kitab Suci mereka dari dulu sampai kiamat nanti adalah “Al Qur’anul Karim” yang hak kekayaan intelektual (HaKI) nya adalah milik Allah SWT, tidak akan ada satu kitab pun yang dapat menyaingi keindahan Al Quran,
Al Quran adalah satu-satunya kitab yang kekal/tetap eksis sampai berakhirnya dunia ini, Al Quran adalah batu ujian bagi kitab-kitab pengajaran Islam. Semua kitab suci sebelum Al Quran diragukan keasliannya/kesuciannya.
Kitab suci lain telah disempurnakan dalam bentuk Al Quran. QS 15: 9, “Allah lah yang menurunkan Al Qur’an, dan Dia benar-benar akan memeliharanya”, atas dasar tersebut, Ahmadi meyakini tak akan ada satupun makhluk di dunia ini yang bisa membajak/menodai Al Qur’an, dan Ahmadi meyakini, jangankan satu ayat, satu huruf pun, bahkan satu titik pun dalam Al Qur’an tak akan ada yang dimanshuk/batalkan.
Non Ahmadiyah menyatakan bahwa MGA/Ahmadiyah merupakan suatu bentukan dan hamba imperialis “negara kafir” Inggris, untuk melemahkan perjuangan kaum Muslimin di India, maka Inggris menganggap perlu untuk membuat boneka, dan boneka itu adalah MGA/Ahmadiyah. Karenanya MGA menyampaikan kepada umat Islam untuk tidak mengangkat senjata melawan Inggris.
Jemaat Ahmadiyah pada saat itu tidak mendapatkan cukup alasan untuk melakukan jihad dengan senjata kepada pemerintah Inggris, karena syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an, Sunnah maupun Hadits mengenai pemberlakuan jihad dengan senjata tidak terpenuhi.
Dengan kata lain, kerajaan Inggris di Hindustan pada waktu itu tidak melakukan tindakan zalim untuk menghapuskan agama Islam serta memerangi kaum muslimin, dan pemerintah Inggris telah memberikan kebebasan penuh bagi setiap penduduk di Hindustan untuk memeluk serta menjalankan ibadah agamanya masing-masing. Sebagaimana terjadi pada Malaysia danBrunei, kedua negara ini tak pernah mengangkat senjata. Mereka mendapat kedulatan negara berupa pemberian dari Kerajaan Inggris.
QS 22 : 39-41, Allah memerintahkan berperang tidak untuk memusnahkan agama lain, bahkan untuk melindungi berbagai agama. Ayat ini menerangkan dengan kata-kata yang tegas, bahwa perang agama dapat dibenarkan jika suatu bangsa atau negara atau pemerintahan melarang orang mengatakan Rabbunallah – “Tuhan kami hanyalah Allah” memaksa orang-orang agar keluar dari Islam, atau mencegah dengan kekerasan agar orang tidak menerima Islam, atau membunuhi orang karena beragama Islam. Jadi, kepada bangsa/Negara yang seperti itu jihad dengan senjata dapat dilakukan.
Jika peperangan terjadi antarbangsa, antarsuku, atau antarkelompok, peperangan yang dimensi politik, alasan keamanan, mempertahankan diri dan sebagainya. Peperangan yang demikian bukanlah peperangan atas nama Tuhan (agama).
Hindustan saat itu dikuasai oleh Kaum Sihk yang banyak menghancurkan masjid-masjid, melarang orang adzan, mencabuli perempuan ““Rupanya kaum Sikh ini terdorong oleh rasa benci terhadap kaum muslimin, wanita dan anak-anak dibantai tanpa ampun, kampung halaman dimusnahkan, perempuan-perempuan dicabuli dan beribu-ribu mesjid dihancurkan.” (Encyclopaedia of Sikh Literature, hlm. 1127).
kerajaan Inggris menguasai Hindustan dan mengambil alih kekuasaan Sikh, pada tanggal 1 November 1854 di Allahabad, pemerintahan Inggris atas nama Ratu Victoriamemberi kebebasan bagi setiap penduduk untuk meyakini dan menjalankan ibadahnya masing-masing dengan rasa aman dan berdasarkan hukum berhak memperoleh perlindungan serta keamanan yang setara tanpa kecuali.
Sebagaimana Hijrah pertama Umat Islam ke Kerajaan Najashi/Nasrani dan meminta pertolongan pada Raja Negus (Raja Kristen yang penuh toleransi dan keadilan), demikianlah MGA memperlakukan Inggris yang telah menolong kaum muslimin dari derita kaum Sikh.
Ulama yang menentang jihad pada Inggris saat itu bukan hanya MGA, tapi juga ulama-ulama non-ahmadi:
Maulana Ismail Syahid menganggap jihad terhadap pemerintah ini sebagai sesuatu yang tidak dibenarkan.” (Isyaa’atus-Sunnah, jld. 9, no. 1, hlm.11-12)
Fatwa dari pemimpin golongan Ahlul Hadits, Maulvi Muhammad Hussein Batalwi:“Bagi kaum muslimin diHindustan, adalah haram untuk menentang dan memberontak terhadap pemerintah Inggris.“ (Risalah Isyaa’atus-Sunnah, jld. 6, no.10, hlm. 287); Orang-orang Islam yang terlibat dalam pemberontakan tahun
1857, perbuatan mereka adalah dosa besar, dan berdasarkan Al-Qur’an serta Hadits, mereka adalah pembuat kekacauan,pemberontak, dan memiliki karakter setan.” (Risalah Isyaa’atus-Sunnah, jld. 9, no.10); “Berperang melawan pemerintah ini atau memberi bantuan jenis apa pun kepada orang-orang yang memerangi pemerintah ini (bahkan jika mereka adalah saudara-saudara muslim kita),jelas-jelas merupakan pemberontakan dan haram.” (Risalah Isyaa’atus-Sunnah, jld. 9, no.10, hlm. 38-4
Fatwa dari para Mufti Mekkah al-Mu’azzhamah:
“(1) Jamaluddin bin Abdullah Syekh Umar, Mufti MazhabHanafi dari Mekkah al-Mukarramah, (2) Hussein bin Ibrahim, Mufti Mazhab Maliki dari Mekkah al-Mu’azzhamah, (3) Ahmad bin Dzahni, Mufti Mazhab Syafi’i dari Mekkah al-Mu’azzhamah, telah menerbitkan fatwa yang menyatakan bahwa Hindustan
adalah Daarus-Salaam (kawasan yang aman damai).” (Sayyid Atta’ullah Syah Bukhari, hlm.31, sebuah buku oleh Shorish Kashmiri
Sir Sayyid Ahmad Khan pendiri Darul Uluum (Universitas) Aligarh menulis dalam bukunya Asbaab-e-Baghaawat-e-Hind (Sebab-Sebab Pemberontakan di Hindustan) sebagai berikut: “Tatkala umat Islam memperoleh perlindungan yang penuh kedamaian dari pemerintah [Inggris] kita, maka umat Islam tidak mempunyai hak untuk ber-jihaddalam wilayah kekuasaan hukum pemerintah ini. Sekitar dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu, seorang tokoh terkenal bernama Maulvi Muhammad Ismail telah mengajarkan pesan jihad di Hindustan, dan mendorong orang-orang agar ber-jihad. Pada saat ini ia dengan jelas mengatakan bahwa rakyat Hindustan yang hidup dengan aman di bawah perlindungan pemerintah Inggris, tidak memiliki hak untuk melakukan jihad di Hindustan.” (Asbaab-e-Baghaawat-e-Hind, hlm. 4, terbitan UrduAcademy, Sind, Mission Road, Karachi, Pakistan
Syed Ali-al-Hairi, seorang mujtahid Syi’ah yang terkenal menyatakan: “Kami bangga terhadap suatu pemerintah yang di dalamnya menjadikan keadilan dan kebebasan beragama sebagai hukum, hal yang serupa tidak dapat ditemukan di pemerintahan lainnya di dunia ini. Oleh sebab itu, saya menyatakan bahwa sebagai balasan atas sikap dermawan ini, setiap orang Syi’ah seyogyanya bersyukur kepada pemerintah Inggris dengan hati yang tulus dan menghargai kedermawanannya.” (MauizaTahreef Qur’an, April 1923
An-Nadwah, suatu institusi dari Nadwatul Ulama menulis: “Tujuan hakiki dari institusi pendidikan ini adalah untuk menghasilkan para ulama agama yang berpikiran jernih, dan merupakan tugas para pengkhidmat agama agar lebih mengenal berkah [kebaikan] pemerintah dan menumbuhkan
kesetiaan kepada pemerintah di negeri ini.” (An-Nadwah, jld. V, July 1908)17
Selanjutnya tertulis: “Suatu hari dihormati sebagai hari libur dalam rangka memperingati lima puluh tahun perayaan pemerintah Inggris dan sebuah telegram ucapan selamat telah dikirimkan atas nama Nadwahkepada Yang Mulia Gubernur Jenderal.“ (An-Nadwah, November 1908
MGA menyatakan Nabi Isa a.s Bani Israel, Ibnu Maryam yang hidup 2000 tahun yang lalu telah wafat secara normal di usia 120 tahun. Sedangkan Non Ahmadi percaya beliau masih hidup, seperti juga Ashabul Kahfi, seperti juga Nabi KHidir.
Allah mengangkatnya ke langit waktu Isa dikejar-kejar oleh tentara Romawi, oleh Allah SWT, Yudas (murid Isa yang berkhianat) dijadikan berwajah Isa, sehingga Yudas yang ditangkap, Yudas yang disiksa, Yudas yang disalib, sedangkan Nabi Isa aman, tentram, tiada luka-luka, tiada merasakan kesakitan, tiada menghadapi ujian, duduk enak di sebelah kanan Allah di langit. Jadi Nabi Isa tidak mati, dan tidak disalib (sholabu), tapi diserupakannya (Syubbiha) bagi mereka. Tetapi Allah mengangkatnya (rofa’ahu) kepada Nya. QS: 4:157-158.
Kesesatan Ahmadiyah adalah meyakini bahwa Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW semuanya telah wafat, termasuk Nabi Khidir, termasuk Nabi Isa a.s Bani Israel, Ibnu Maryam, QS 3:55, 3:144, 5:75, 5:117, 7:25, 21:8, 21:34-35.
Kezaliman Ahmadiyah adalah dengan mengatakan, tidak mungkin ada pertentangan dalam Qur’an.Beberapa ayat Al Quran mengatakan bahwa semua nabi (Allah tidak pernah mengatakan kecuali Nabi Isa/kecuali Nabi KHidir) telah wafat, tidak ada yang kekal, mati dan hidup di bumi.
Ahmadiyah yang kafir, sesat, menyesatkan menafsirkan “sholabu” dengan “tidak menyalibnya (sampai mati)” “Syubbiha” dengan “disamarkan” seolah-olah Nabi Isa terlihat mati, padahal sesungguhnya hanya sekarat. Ketika diturunkan dari tiang salib, tubuhnya dibawa oleh Yusuf Arimatea, dan Mariam Magdalena untuk diobati sampai sembuh. Kata “rofa’a” ditafsirkan bukan “mengangkat ke langit” tapi “diangkat derajatnya” oleh Allah, karena Nabi Isa telah menghadapi ujian berat, dipenjara, disiksa, dan disalib. Maka derajatnya diangkat oleh Allah SWT, Nabi Isa termasuk dalam 5 (lima) orang Nabi Ulul Azmi.
MGA mengklaim dirinya Nabi Isa yang oleh Non Ahmadi diyakini akan turun di akhir zaman.
Hal ini merupakan suatu kedustaan, penyimpangan dan kesesatan. Non Ahmadi menyatakan setiap Nabi adalah orang yang tidak belajar/ummi. Seperti Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, mereka tidak punya guru, tidak pernah belajar apa-apa, hanya merenung diri dalam gua, sebelum Allah kemudian mengangkat dia jadi Nabi/Rasul. Sedangkan MGA adalah pribadi yang jelas-jelas sebelumnya telah belajar Islam, telah belajar Al Qur’an.
Ahmadi berkelit mengenai kesesatan ini dengan menjelaskan bahwa, tidak semua Nabi/Rasul ummi seperti Nabi Muhammad SAW. Nabi Harun belajar pada Nabi Musa. Nabi Musa belajar pada Nabi Khidir. Nabi Isa sejak kecil dia telah berdebat dengan Ulama Yahudi. Kemudian dari umur 12 s.d 30 tahun (dalam Injil tidak ada kisah hidup Nabi Isa dari umur 12 s.d 30 tahun) Nabi Isa mengikuti/belajar pada golongan Essene (orang-orang yang menjaga kesucian Kitab Taurat dan Injil). Kisah ini dapat dibaca pada buku Nafiri Maut dari Lembah Qamran (Dead Sea Acrolls), karya Saleh A. Nahdi, Surabaya, Yayasan Raja Pena, 2001, Cet 7, hal 25.
Non-Ahmadi juga meyakini Nabi Isa yang akan turun nanti adalah Nabi Isa yang turun 2000 tahun yang lalu yang tugasnya adalah menghancurkan dajjal (ciri2 dajjal antara lain: bermata satu, baginya air laut hanya sebatas mata kaki), memecahkan salib, membunuh babi, memerangi Yahudi dan Nasrani sampai tidak ada lagi tempat sembunyi bagi mereka, bahkan pohon dan batu akan bicara memberitahu kaum Muslimin jika ada Yahudi dan Nasrani sembunyi di balik mereka.
Ahmadiyah melakukan penyimpangan keyakinan dengan mengatakan itu semua hanya perumpamaan. Nabi Isa yang akan turun bukan Nabi Isa Israeli Ibnu Maryam, tapi Nabi yang sifat-sifatnya seperti Nabi Isa, dan MGA mengaku dialah Nabi Isa dan Imam Mahdi.
Nabi Isa mengajar dengan banyak memberi tamsil/pemisalan (Matius 13:34), maka MGA juga memberikan pengajaran dengan memakai tamsil. Dajjal menurut Ahmadiyah bukan makhluk luar biasa bermata satu, dan air laut setinggi mata kakinya. Tapi itu hanya pemisalan, bermata satu adalah sistem/isme yang dianut manusia yang tidak memandang akhirat, tapi hanya duniawi saja. Islam mengajarkan keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat, “Bekerjalah seolah kamu akan hidup selamanya, Sholatlah kamu seolah akan mati esok pagi”.
Tapi Dajjal tidak. Bagi Dajjal akhirat itu tidak ada, bagi Dajjal kehidupan hanya di dunia saja, tidak ada syurga dan neraka, tidak penghakiman.
Dajjal adalah sistem hedonisme, komunisme, materialisme. Air laut bagi bagi Dajjal hanyalah semata kaki, mencerminkan betapa tinggi ilmu dajjal, betapa tinggi kemajuan tegnologi dajjal. Dengan satelit dia bisa melihat dengan jelas apa yang terkandung di dalam dan dasar laut, apa yang terkandung dalam bumi dan dalam gunung.
Inti ajaran Nabi Isa adalah “Tuhan itu Esa/Laillahailalah” dan menyebarkan kasih sayang, sesuai dengan jargon Ahmadiyah “Love for All, Hatred for None/Cinta untuk semua, dan Benci tidak untuk siapapun”
Nabi Isa berkata “sampai kiamat satu titik pun dalam Taurat tidak akan dihilangkan” MGA berkata “sampai kiamat, jangankan satu ayat, satu huruf, bahkan satu titik pun dalam Qur’an tidak akan dimansyuk/dibatalkan”
Nabi Isa mengalami nasib dimana seluruh ulama Yahudi meyakini dia Nabi Palsu, dan memaksa Penguasa saat itu, Kaisar Pilatus untuk menyalib Nabi Isa. MGA juga mengalami hal yang sama, dimana ulama seluruh dunia dibawah Rabithat al Islami mengecap MGA “kafir, sesat, menyesatkan, keluiar dari Islam, murtad, yang darahnya dihalalkan”
Nabi Isa datang kurang lebih 1400 tahun sesudah kematian Nabi Musa. MGA mendakwakan dirinya Nabi Isa, setelah kurang lebih 1400 tahun sesudah kematian Nabi Muhammad SAW.
Nabi Isa datang ketika Yahudi sedang terpecah belah, dan dikuasai pihak asing Romawi. MGA datang ketika negara-negara Islam sedang dalam masa kejatuhan/penjajahan pihak-pihak asing.
Nabi Isa membawa kerajaan Ruhani (Yoh. 18:36). MGA juga membawa kerajaan Ruhani, menolak menjadikan ahmadiyah organisasi politik, mendirikan kekhalifahan (sejak 1908 s.d saat ini) berupa kerajaan Ruhani, yang tiada batas negara, kedaulatan, pemerintahan, dan politik.
Lebih sesat lagi, MGA yang mengaku bahwa Nabi Isa dan Imam Mahdi pribadi yang satu, yaitu dirinya, menafsirkan tanda-tanda alam, dan mencocokkannya dengan hadist-hadist tentang kedatangan Imam Mahdi:
Bagi kedatangan Mahdi, ada dua tanda alam yang belum pernah terjadi sejak Allah menciptakan langit dan bumi, yaitu gerhana bulan pada awal bulan Ramadhan, dan gerhana matahari pada pertengahan bulan Ramadhantersebut. Ini terjadi tahun 1311H/1894M, 4 tahun setelah MGA mengaku dia Isa Al Masih.
Apabila kamu melihat di sebelah timur api berkobar selama 3 hari atau 7 hari lamanya, Tahun 1883, Gunung Krakatau meletus. MGA menerima wahyu pertama kali sekitar tahun 1880.
Matahari terbit dari arah barat, Ahmadiyah menafsirkan matahari adalah cahaya kelimuan, kemajuan teknologi. Revolusi Industri bermula dari Inggris. Hak Azazi manusia pertama disyahkan di Inggris. Keilmuan berkembang pesat dari barat. Waktu pada titik 00.00 adalah garis yang melintas di Grenwicht, kota di Inggris.
Tugas Mahdi/Isa Masih menghancurkan Yahudi dan Nasrani, bukanlah berarti memerangi mereka secara fisik, tapi menghancurkan kepercayaan orang Nasrani dan Yahudi tersebut. Yahudi sangat yakin Isa adalah Nabi palsu, karena ternyata Isa mati di tiang salib. Nasrani, inti kepercayaan mereka adalah “bahwa Tuhan Yesus menjelma di dunia, untuk menebus dosa seluruh umat manusia dengan cara mati terkutuk di tiang salib” Kepercayaan ini hancur karena ternyata Isa tidak mati terkutuk di tiang salib. Ini berarti Isa a.s adalah Nabi yang benar. Ini berarti Isa a.s bukan Tuhan yang menjelma ke dunia tuk menebus dosa umat manusia.
Bagaimana dengan kepercayaan Islam yang menyatakan bahwa yang disalib itu Yudas (injil Barnabas). Semua kitab suci selain Al Quran diragukan keasliannya. Injil Barnabas juga diragukan keasliannya, karena kitab ini baru muncul saat Islam mengalami zaman keemasan di Spanyol. Manuskrip Injil Barnabas yang asli berbahasa Italia dan Spanyol, bukan bahasa Ibrani, bahasa asli Nabi Isa.
Kalau memang yang ditangkap Yudas, yang dipenjara Yudas, yang disiksa Yudas, jadi kenapa Nabi Isa diberi derajat Ulul Azmi, kalau dia tidak pernah menghadapi ujian berat. Sebagaimana Nabi Ulul Azmi lain menghadapi cobaan berat, Ibrahim dibakar – tetap hidup, Nuh menghadapi topan badai – tetap hidup, Musa melewati lautan – tetap hidup, Rasulullah berperang dan terluka parah – tetap hidup, demikian juga Isa, ia dikejar, ditangkap, dipenjara, disiksa, disalib – tetap hidup.
Demikianlah beberapa penyimpangan keyakina yang dilakukan MGA/Ahmadiyah yang tidak sesuai denganMainstream Kaum Muslimin di Seluruh Dunia. Semoga tulisan ini dapat dijadikan modal bagi setiap keluarga yang menganut Mainstream Kaum Muslimin di Seluruh Dunia untuk tidak terpengaruh dengan ajaran Ahmadiyah.
Bagaimana seharusnya pemerintah dan Mainstream Kaum Muslimin di Seluruh Dunia menyikapi keyakina Ahmadiyah yang sesat dan menyimpang ini? Sebagaimana pesan Rasulullah agar kita tetap berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.
Adakah warga Ahmadiyah melakukan perbuatan seperti yang dilakukan Nabi-Nabi palsu sebelumnya? Musailamah bin Kahzab menghasut kaum muslimin untuk tidak membayar zakat, dan tidak taat kepada Rasulullah Muhammad SAW. Musailamah ingin agar daerah Muslim dibagi dua, sebagian di bawah kekuasaan Muhammad, sebagian di bawah kekuasaan Musailamah. Musailamah pada awalnya mengucapkan syahadat, tapi kemudian mencabutnya.
Adakah Ahmadiyah merebut/merampas tanah umat Mulim? Adakah Ahmadiyah menolak membayar zakat? Adakah Ahmadiyah membenci Nabi Muhammad? Adakah Ahmadiyah menyia-nyiakan Al Quran? Adakah Ahmadiyah mengubah syahadat? Adakah Ahmadiyah menolak salah satu Rukun Iman dan Islam?
Motif utama Nabi-nabi palsu adalah kekuasaan dan kekayaan. Adakah Ahmadiyah ingin menguasai suatu negara? Sedangkan mereka tidak pernah bergerak di bidang politik.
Adakah orang Ahmadiyah memperkaya diri sendiri? Sedangkan kebanyakan harta mereka disumbangkan untuk membiayai Stasiun Televisi yang programnya hanya dakwah Islam ke seluruh dunia, membiayai sekolah para mubaligh, membangun sekolah-sekolah, rumah sakit, pelayanan bantuan kemanusiaan ke seluruh dunia tanpa pandang SARA. Ahmadiyah tercatat oraganisasi yang paling banyak mendaftarkan donor mata ke Bank Mata (lebih dari 700 orang donatur, untuk Indonesia saja).
Apakah keberadaan Ahmadiyah di dunia ini membuat kondisi umat Islam terpuruk dalam lembah kehinaan dan kenistaan? Sedangkan Zafrullah Khan (Ahmadi) bekas menteri Luar Negeri Pakistan selalu memperjuangkan hak-hak rakyat Palestin. Para Ahmadi juga selalu memberi dorongan moril bagi perjuangan Soakarno.
Arif Rahman Hakim, pejuang ampera, namanya diabadikan sebagai nama Masjid di UI Salemba, adalah seorang Ahmadi. Abdus Salam (Pakistan), peraih nobel fisika, muslim pertama penerima nobel, adalah ahmadi.
Masjid pertama berdiri di Spanyol setelah 700 tahun sejak kekalahan Muslim dalam perang salib adalah Masjid yang dibangun oleh Ahmadi. Di antara Muslim pelopor yang berdakwah dan mendirikan Masjid di negara-negara komunis seperti Hongaria, Polandia, Rusia, dan negara Eropa lainnya, Amerika, juga di negara Yahudi, Israel, adalah Ahmadiyah.
Ahmadiyah tidak pernah membuat malu agama Islam, hasil kerja keras Ahmadiyah dan jargonnya yang cinta damai membuat nama Islam semakin harum di mata dunia. Kesalahan Ahmadiyah hanyalah mereka mempercayai Nabi Isa sudah turun, karena tanda-tanda kiamat sudah terlihat. Kesalahan Ahmadiyah adalah bahwa mereka meyakini Allah SWT adalah Allah yang Maha Hidup, Allah SWT bukan Allah yang bisu Dia Al Malik, Dia Al Haadii, Dia Al Waali, Dia Al Hakam, Mutakallimun.
Apakah kesalahan-kesalahan tersebut bisa dijadikan dasar bagi kita untuk mencap Ahmadiyah keluar dari Islam, dan menghalalkan darah mereka. Sedangkan provokator pertama asal muasal Ahmadiyah di cap kafir adalah zaman Bhutto dan King Fadh. Semoga kita bisa bertabayyun, sama-sama membaca sejarah, Siapa Bhutto, siapa King Fadh, siapa Zafrullah Khan, siapa Pakistan, siapa Malaysia, dari mana kedua negara ini mendapat kemerdekaan.
Apakah Indonesia akan berkiblat pada Malaysia yang telah mencaplok salah satu pulau Indonesia, yang berusaha meng-HaKI-kan Rendang, Batik, Reog Ponorogo, yang jelas-jelas merupakan budaya asli Indonesia.
Apakah Indonesia akan berkiblat pada Pakistan, yang kita tahu sejarah politiknya yang penuh kudeta dan berdarah-darah.
Semoga Indonesia semakin dewasa dalam memperingati 100 tahun kebangkitannya. Semoga Indonesia semakin mandiri dan memiliki jati diri, sehingga segala keputusan diambil atas dasar cinta, kasih, dan sayang demi kemajuan bangsa dan negara tercinta. Karena Islam adalah Rahmatanlilalamin. Islam menyebarkan kasih bukan hanya untuk orang Islam, tapi untuk Indonesia, untuk dunia, untuk seluruh alam semesta.