Jumat, 21 Oktober 2011
Senin, 17 Oktober 2011
Reparasi Semangat Sumpah Pemuda
Yang Muda Yang Terlena
Berbagai fakta kekinian menunjukkan bahwa pemuda saat ini semakin hanyut dalam kemaksiatan. Pada kasus penyalahgunaan narkoba, tercatat 19 persen dari jumlah remaja Indonesia atau sekitar 14 ribu remaja terindikasi sebagai pengguna narkoba (dinsos.jakarta.go.id, 31/1/10). Sementara yang tak kalah mengejutkan adalah data dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2010. Diperkirakan setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,4 juta jiwa, 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja. Selaras dengan hal tersebut, sekitar 51 persen remaja di Jabodetabek telah melakukan hubungan seks pranikah (tribunnews.com, 1/12/10).
Disusul dengan laporan Kementerian Kesehatan Triwulan Kedua per Juli 2011 yang menyatakan sampai dengan Juni 2011 saja secara kumulatif jumlah kasus AIDS yang dilaporkan adalah 26.483 kasus. Sebanyak 33 provinsi dan 300 kabupaten/kota yang melapor. Cara penularan yang paling tinggi adalah melalui heteroseksual (54,8 %) dengan proporsi tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (46,4 %). Gubernur, Irwan Prayitno pun dikejutkan oleh pemaparan dari Kadis Kesehatan Sumbar. Sumatera Barat meraih rangking ke 12 penderita HIV/AIDS dari 33 provinsi se Indonesia (aidsindonesia.or.id, 26/8/10).
Angka pengangguran pemuda kita juga masih tinggi. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) pada 2009, jumlah pemuda Indonesia yang kini masih menganggur mencapai 17 persen dari 70 juta jiwa, atau sekitar 12 juta pemuda. Sebagian besar dari mereka hidup dalam kondisi miskin dan berpendidikan rendah. Kondisi tersebut akhirnya menyebabkan pemuda Indonesia berada dalam lingkaran penyakit social (jurnalnasional.com, 2/6/10).
Di saat yang sama, anarkisme pemuda terlihat semakin menggeliat. Aksi tawuran pelajar atau mahasiswa sering muncul dalam berita di berbagai media massa. Hasil riset Institut Perdamaian Titian tahun 2008 menyatakan bahwa rata-rata setiap satu setengah hari terjadi tawuran di Indonesia. Bukannya menurun, pada pertengahan tahun 2010 meningkat jadi 752 insiden. Jika dibagi per hari, berarti telah terjadi 4 insiden konflik dan kekerasan tiap hari. Jumlah yang sangat mencengangkan! Sementara keterlibatan mahasiswa pada tahun 2009 sejumlah 65 kali dan pada tahun 2010 beranjak naik menjadi 109 kali. Sedangkan keterlibatan siswa sebanyak 84 kali (titiandamai.or.id, 2010). Belum lagi sejumlah kasus kekerasan yang dilakukan senior terhadap juniornya.
Inilah sekelumit gambaran pemuda kita saat ini. Waktu hidupnya lebih banyak digunakan untuk mengejar kesenangan dunia. Fisik dan nyalinya yang kuat dijadikan modal tawuran bahkan tak segan dihancurkannya dengan narkoba. Mereka dicekoki pornografi dan pornoaksi. Menjadi pelaku sekaligus korbannya.
Memang tak terpungkiri, masih ada kaum muda yang membanggakan. Mengukir prestasi baik di dalam maupun di luar negeri. Namun, mereka belum mampu membangkitkan bangsanya dengan kebangkitan yang hakiki.
Akar Masalah
Gaya hidup pemuda saat ini yang begitu semrawut sesungguhnya merupakan hasil dari diterapkannya ideologi sekuler-Kapitalisme. Pandangan hidup (way of life) inilah yang bercokol di benak pemuda. Termasuk di dalamnya hedonisme yang menjadikan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Aturan agama disisihkan dan hanya dijalankan sebagai kegiatan ritual saja.
Adapun gerakan-gerakan yang telah diusahakan segelintir kaum muda untuk memperbaiki kebobrokan negeri, belum membuahkan hasil yang diharapkan. Demokrasi masih diagung-agungkan sebagai satu-satunya solusi. Padahal, sistem ini sebagai hasil dari Kapitalisme adalah sumber segala permasalahan mereka. Betapa tidak? Dalam alam demokrasi, katanya yang berdaulat adalah rakyat. Tetapi realitasnya yang disebut rakyat hanyalah sekelompok orang yang memiliki kekuatan (baca: uang). Segala peraturan dan kebijakan adalah aspirasi pemilik modal, bukan rakyat dalam arti yang sebenarnya.
Pemuda pun tidak bersatu atas ikatan yang kuat. Nasionalisme yang digelorakan oleh semangat Sumpah Pemuda sejak lebih dari 80 tahun yang lalu nyatanya saat ini hanya menjadi wacana. Hal ini wajar karena Nasionalisme merupakan ikatan yang lahir dari naluri manusia untuk mempertahankan diri (survive). Sifatnya yang emosional dan bercakupan sempit akhirnya tak mampu mengikat pemuda untuk meraih kebangkitan yang awet.
Jika dulu Sumpah Pemuda mampu menggerakkan pemuda Indonesia untuk lepas dari belenggu penjajahan, namun kini tidak lagi. Ketika penjajahan fisik bertukar menjadi penjajahan intelektual (pemikiran), semangat perjuangan itu pun luntur. Padahal, inilah bentuk penjajahan yang lebih dahsyat. Bayangkan saja yang akan terjadi di masa depan. Kita akan kembali diduduki para imperialis lantaran generasi penerus telah lumpuh jiwa dan raganya.
Pemuda Islam Pembawa Kebangkitan yang Dinanti
Begitu banyak prestasi gemilang yang diukir oleh pemuda-pemuda Islam. Mulai dari bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sampai kepada pemerintahan dan militer. Sebut saja, Ibnu Sina yang digelari “Bapak Kedokteran Modern” yang sudah mempelajari kedokteran pada usia 16 tahun dan menemukan metode – metode baru dari perawatan. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib (The Canon of Medicine) yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad. Ada Al Biruni (astronomi, kedokteran, dan fisika), Ibnu Khaldun (Bapak Ilmu Sosiologi Politik), Ibnu Hitsam (Pelopor Ilmu Optik) dan banyak ilmuwan muda lainnya.
Prestasi yang tak kalah gemilang dari tangan seorang pemuda, Muhammad Al-Fatih. Menjabat sebagai khalifah di usia 22 tahun. Di bawah kepemimpinannya kaum muslimin berhasil menjemput kabar gembira dari Rasulullah yakni penaklukan kota Konstantinopel di bawah Kekaisaran Byzantium. Sebanyak 250 pasukan berhasil seberangkan 70 perahu melalui daratan berbukit terjal hanya dalam semalam (Selat Bosporus-Tanduk Emas). Cara yang tak pernah terbayangkan dan tak tertandingi oleh pasukan manapun sepanjang sejarah. Luar biasa! Ialah panglima terbaik dengan pasukan yang terbaik sesuai dengan janji Rasulullah Saw : “Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-hebat panglima perang adalah panglimanya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya” (HR Ahmad).
Bangkitlah Pemuda Zamrud Khatulistiwa!
Indonesia merupakan negeri mayoritas Muslim terbesar di dunia. Otomatis mayoritas pemudanya pun adalah Muslim. Ini sesungguhnya merupakan potensi yang sangat besar. Jumlah pemuda kita berdasarkan UU No. 40 Tahun 2009 dengan kategori umur pemuda 16 - 30 tahun, jumlah pemuda Indonesia pada tahun 2011 mencapai 62,92 juta jiwa (kppo.bappenas.go.id, 2009). Jumlah ini harusnya lebih besar lagi jika kategorinya berdasarkan hadist dari Ibnu Abbas r.a. berikut : “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (yakni antara 30 - 40 tahun). Begitu pula tidak ada seorang alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia (hanya) dari kalangan pemuda saja.”
Potensi kuantitatif ini tak akan berarti apa-apa jika tidak ditunjang secara kualitatif. Pemuda Muslim harus kembali pada perannya sebagai pembawa perubahan dan kemuliaan bagi umat. Menjadikan Islam sebagai way of life-nya. Pemuda yang sarat ilmu dan bertakwa, seperti yang dikatakan Imam Asy Syafii rahimahullah : "Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan)."
Pemuda harus bergerak untuk memberangus “penjajahan baru” yang tengah melanda kita. Bergerak dengan landasan yang “baru” pula yaitu ketaqwaan, bukan hanya semangat belaka yang musiman. Bukan lagi dengan semangat lokal semacam Nasionalisme. Sebab, masalah yang kita hadapi saat ini bersifat global, maka dibutuhkan dorongan yang bersifat global pula. Spirit perubahan secara global itu tak bisa diwadahi oleh Sumpah Pemuda. Terlebih, semangat ini tidaklah mendapat kemuliaan di sisi Allah SWT. “Tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyeru kepada fanatisme golongan/ashabiyah (Nasionalisme, dsb). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang berperang atas dasar ashabiyah. Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang terbunuh atas nama ashabiyah.” (HR. Abu Dawud).
Kebangkitan pemuda dapat diwujudkan dengan bersatunya pemikiran, perasaan dan tekad mereka. Satu-satunya yang menjadi pengikat pemuda muslim adalah akidah mereka. Sebab, akidahlah yang menggerakkan perjuangan dan menjadikan mereka bersaudara ibarat “satu tubuh”. Menyadari konsekuensi dari akidah akan membangkitkan kita untuk mengubah keadaan yang terpuruk ini. Hal ini telah diwujudkan oleh generasi silam sehingga Islam Berjaya selama 14 abad memayungi dua per tiga belahan bumi! Saat itu umat Islam mampu bersatu dalam satu kepemimpinan, Khilafah Islamiyah yang dipimpin oleh hanya seorang khalifah. Padahal wilayahnya terbentang dari benua Asia hingga Eropa yang terdiri dari beragam suku, bangsa dan agama.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raaf:96 : “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka dari itu, saatnya pemuda bangkit dengan berjuang menyeru umat untuk sungguh-sungguh beriman dan bertakwa. Sungguh-sungguh dalam menjalankan semua perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya. Semoga momentum Sumpah Pemuda ini dapat menjadi momentum introspeksi bagi pemuda Indonesia untuk mereparasi semangat perjuangannya. Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Relakah kita terus tersilaukan sampai nanti hanya dapat menyesali diri? Tentu tidak!
Rini Ramadhian, pelajar di Padang.
Kamis, 19 Mei 2011
Setelah UN, Mau Ngapain?
Bro en Sis, semoga masa belajar yang kamu tempuh sejak SD hingga lulus SMA, berarti 12 tahun ya, cukup untuk menjadi bekal mengarungi kehidupan. Bagi kamu yang masih belum puas belajar, kuliah adalah pilihan tepat. Apalagi jika biayanya memang udah disiapin sama ortumu. Ambil kesempatan itu dan gunakan sebaik-baiknya. Tetapi bagi kamu yang kebetulan udah mentok, baik dari segi biaya maupun kemampuan akademik, jangan putus asa. Kesempatan kamu masih terbuka lebar untuk mengembangkan kemampuan.
Insya Allah bagi yang belajar di sekolah kejuruan nggak terlalu khawatir, karena bisa langsung bekerja di sektor industri sesuai keahlian yang dimiliki, tetapi bagi kamu yang lulusan SMA/MA agak sedikit berat. Meski tentu tetap harus semangat. Beratnya kenapa? Ya, karena dari segi keahlian tidak spesifik seperti kawan-kawan di sekolah kejuruan. Artinya, daya saing di sektor industri agak berat. Tetapi, tetap percaya diri saja. Insya Allah masih ada jalan untuk memperbaiki kualitas diri sehingga bisa tetap mendapat peluang untuk mengais rejeki, selama kamu terus mau belajar. Banyak kok, orang yang bisa survive meski tak memiliki selembar ijasah SMA karena SMP pun tak lulus. Bahkan keahliannya bisa diadu dengan mereka yang makan bangku kuliahan. Bener lho. Selalu ada jalan bagi orang yang mau berusaha. Insya Allah.
Ujian Nasional bagi siswa SMA dan SMK (termasuk MA) sudah berlalu pekan kemarin. Tinggal menunggu hasil. Semoga berhasil ya. Di awal Mei baru deh Ujian Nasional bagi kamu yang SMP, berikutnya lagi adalah SD. Bagi kamu yang masih SD atau SMP, pilihan tepat sebisa mungkin adalah melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tetapi bagi kamu yang udah SMA/SMK/MA, pilihannya jadi dua: melanjutkan pendidikan atau bekerja (tepatnya sih mencari nafkah). Sebab, mencari nafkah tidak harus dengan bekerja kepada orang lain, tetapi dengan berwirausaha pun insya Allah akan menghasilkan uang untuk nafkah pribadi dan untuk orang yang menjadi tanggungan kita, yakni orang tua. Setidaknya sebelum nikah.
Nah, gaulislam edisi ke-183 ini, insya Allah akan bahas sesuai judulnya: setelah UN, apa yang mau kita lakukan? Mau ngapain sih kita? Kalo nggak bisa kuliah, kita memilih bekerja/berusaha untuk dapetin rejeki. Kalo pun tetap mau kuliah tapi juga harus bekerja, maka bisa ditempuh dua-duanya. Bekerja untuk biayai kuliah. Nggak masalah. Selama kamu kuat melakukannya, bukan tak mungkin jika pada akhirnya kamu menuai kesuksesan. Insya Allah.
Jangan berhenti belajar
Bro en Sis, saya menuliskan subjudul ini maksudnya bahwa meski kamu udah lulus sekolah dan nggak ngelanjutin kuliah, tetapi belajar nggak boleh berhenti. Belajar apa saja yang sekiranya bisa membuat kamu jadi ahli. Bisa belajar dari orang lain, bisa membaca buku-buku mereka yang sudah sukses. Apa sajalah. Yang penting kamu bisa belajar dan mengasah terus kemampuanmu.
Jangan pernah bayangkan bahwa belajar itu sulit, belajar itu harus mahal, belajar itu harus serius. Nggak kok. Kita bisa belajar dengan mudah, murah, dan tentunya menghibur sehingga merasa enjoy dalam ngejalaninnya. Yup, intinya, sesuatu itu harus yang membuat kita merasa enjoy melaksanakannya. Sebab, kalo merasa beban karena bukan berangkat dari minat dan niat yang kuat, biasanya akan sedikit ada gangguan dalam proses belajar tersebut. Ujungnya bisa jadi malah nggak jalan.
Oya, yang perlu mendapat catatan khusus, bahwa kita rasa-rasanya tak mungkin belajar semua yang kita inginkan dari sekian disiplin ilmu dan keterampilan. Pilihlah satu bidang yang menjadi fokus belajar sesuai minat kita. Selebihnya boleh juga mengenal dan mengetahui bidang lain, meski nggak terlalu fokus. Intinya, sekadar tahu aja sebagai pelengkap potensi diri. Nggak mahir banget.
Ini bukan tanpa alasan. Sampai saat ini saya belum menemukan langsung ada orang yang serba bisa (mulitalent) dengan kemampuan yang sama bagusnya di tiap bidang yang dia bisa. Paling banter ada orang yang memiliki dua atau tiga keahlian dengan kualitas kemahiran yang sama bagusnya. Rata-rata sih dua keahlian yang dikuasai. Misalnya Buya Hamka, beliau ini handal dalam menulis maupun berbicara. Lidahnya setajam penanya. Begitu kira-kira gambarannya.
Kalo Bung Karno agak lain. Dia orator ulung. Cara berpidatonya hebat banget, meskipun tulisan-tulisannya kalo menurut saya sih biasa-biasa saja. Tapi tentu itu lebih baik daripada mereka yang menulis saja nggak bisa, berbicara juga berantakan. Maaf, barangkali hanya kentutnya saja yang lancar. Hehehe.. jangan ngambek ya kalo ada yang tersinggung dengan guyonan ini. Saya tidak bermaksud merendahkan tapi mencoba merenungkan saja. Barangkali memang ada hikmah yang bisa diambil untuk pembelajaran kita.
BTW, apa saja nih tips agar kita terus belajar tanpa henti meski usia terus bertambah bilangan angkanya. Ok. Ini ada beberapa tips yang bisa kamu coba:
Pertama, niatkan untuk ibadah. Ini penting banget. Sebab, insya Allah bakalan sia-sia setiap amalan yang TIDAK diniatkan untuk ibadah dan meraih ridho Allah. Harus diniatkan untuk ibadah dan ikhlas karena Allah ya.
Kedua, sabar dan telaten. Satu kebiasaan yang sering diamalkan oleh banyak orang adalah tergesa-gesa. Ingin cepat bisa, ingin segera terasa hasilnya. Padahal, faktanya tidaklah demikian. Butuh keuletan dan ketelitian. Keuletan dan ketelitian insya Allah bisa dijalani dengan enjoy apabila kita sabar. Cobalah terus belajar dengan sabar dan telaten, sebab benteng Mesir pun ditaklukkan tidak dengan sekali pertempuran.
Ketiga, serius. Perlu diperjelas bahwa serius bukanlah harus tegang dan kaku. Nggak kok. Maksudnya serius di sini adalah tak pernah mengabaikan setiap kesempatan untuk belajar. Belajar dan terus belajar. Tidak malas, pun tidak asal belajar.
Keempat, jangan menyerah. Harus kuat mental. Pembelajar yang handal pasti tak pernah menyerah meski sesulit apapun dalam proses belajar yang dijalaninya. Insya Allah.
Kelima, fokus. Ini sangat penting untuk mendapatkan hasil maksimal. Pilih satu keahlian yang diminati dan dinikmati dengan baik dan belajarlah untuk mengembangkannya.
Keenam, kreatif. Cobalah hal baru dalam belajar, jangan yang itu-itu saja. Jika perlu mencari bahan tambahan informasi dalam belajar melalui internet, belajarlah internet terlebih dahulu kalo belum bisa. Jika membutuhkan sarana multimedia untuk melejitkan potensi diri, tempuhlah dengan senang hati dan cari sumber-sumbernya. Kreativitas akan memberikan kekayaan nilai dalam belajar dan memaksimalkan pengembangan hasil belajarnya. Insya Allah.
Ketujuh, jangan cepat puas. Jangan berhenti di satu level terlalu lama. Boleh saja nikmati satu fase dari usaha kita, tapi jangan cepat puas. Sebaliknya, tingkatkan lagi level kemampuan kita untuk lebih mumpuni dan lebih baik lagi. Penyakit cepat puas adalah ‘pembunuh’ efektif dalam proses pembelajaran. Teruslah belajar. Jangan pernah berhenti.
Pikirkan masa depan akhirat (juga)
Sobat, kadang kita lupa. Kayaknya merasa bahwa hidup di dunia akan selamanya. Itu sebabnya, banyak orang seringkali lebih mementingkan mengejar dunia sampai lupa bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Dunia boleh dikejar, diraih, dinikmati. Tetapi jangan lupakan kehidupan akhirat yang sudah pasti kekal abadi.
Dalam firmanNya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi (QS al-Qashash [28]: 77)
Dalam ayat ini Allah Ta’ala menekankan untuk meraih kehidupan akhirat, tetapi jangan lupakan dunia. Kalo kita, ternyata malah memilih kebalikannya. Kejar terus dunia, tetapi untuk kehidupan akhirat malah seperlunya aja. Shalat hanya dilakukan ketika sedang dirundung masalah. Rajin baca al-Quran ketika takut gangguan jin. Dengan kata lain, bekal untuk mengarungi kehidupan akhirat yang kekal abadi malah minim atau bahkan nggak diperhitungkan sama sekali. Aduh, jangan sampe deh.
Bro en Sis, Ujian Nasional bukan akhir dalam proses belajar kita. Itu baru satu etape kehidupan saja. Masih banyak etape lain yang akan dilalui dan tentu saja memerlukan pengetahuan yang benar dan baik agar bisa mengatasi kendala yang ada.
Meski dunia terus kita kejar, tetapi luangkan waktu lebih banyak untuk bekal di kehidupan akhirat. Apa itu bekalnya? Amal shalih dan terus memohon rahmat dan ampunan dari Allah Swt. agar kelak di akhirat kita dimasukkan ke surgaNya. Insya Allah.
Nah, karena kehidupan akhirat lebih kita perlukan, maka kita harus terus belajar untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal shalih kita. So, jangan bangga dulu kalo di KTP atau kartu pelajar tercantum Islam di kolom agama, jika praktiknya dalam kehidupan sehari-hari kita tak pernah beramal shalih, bahkan keimanan kita sudah ternodai dengan kekufuran, tauhid kita diselipi syirik. Jangan sampe deh!
Yuk mari, kita belajar Islam tak pernah henti. Ujian Nasional boleh berlalu, tetapi belajar untuk bekal akhirat kita wajib terus kita lakukan untuk meraih predikat mukmin sejati. Sip deh! [solihin: osolihin@gaulislam.com]
Senin, 09 Mei 2011
PKS: "Tak ada Negara Islam..., Itu ide kampungan sekali"
JAKARTA- Mantan Menteri Peningkatan Produksi Negara Islam Indonesia (NII) Imam Supriyanto menyebut terbentuknya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memiliki hubungan historis dengan kelompok Darul Islam, cikal bakal NII.
Menanggapi testimoni Imam, PKS berharap keberadaan Ayah Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin, Danu Muhammad Hasan, sebagai mantan panglima miilter Darul Islam wilayah Cirebon Jawa Barat tidak langsung dikaitkan dengan PKS.
"Danu Muhammad itu memang bapaknya Pak Hilmi, tapi tak ada masalah dengan itu. Jangan membuat pelabelan-lah," kata Ketua DPP PKS Fahri Hamzah saat dihubungi wartawan, Kamis (5/5/2011).
PKS, sambung Fahri, konsisten dengan asas tunggal Pancasila. PKS mempertahankan konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang mengakomodir kebhinekaan agama, suku, dan ras. "Siapa pun konsep negara agama tak ada, PKS juga sudah menegaskan itu. Tak ada negara Islam, Kristen, atau Hindu. Itu ide kampungan sekali," tegas Fahri.
Dalam diskusi di ruang wartawan DPR, Imam menyebut Hilmi bersentuhan dengan kegiatan Ikhwanul Muslimin kala menempuh jalur pendidikan di Universitas Al Azhar di Mesir.
Semangat gerakan ini kemudian dibawa Hilmi ke Indonesia. Pola perekrutan untuk melebarkan sayap Ikhwanul dilakukan tertutup dengan menyasar pelajar dan mahasiswa. "Ikhwanul bergerak di parpol dan parlemen supaya ideologi Islam bisa terwujud dalam satu negara," katanya.
Momentum inilah yang dimanfaatkan untuk membentuk Partai Keadilan yang dalam perkembangannya menjadi PKS. "Gerakan underground masih berjalan hingga sekarang. Ini bisa dikonfirmasi dengan orang-orang yang masih menjabat dan sudah mantan. Tetapi hubungan PKS dengan NII hanya biologis dan historis," tandas Imam.
Suara Anak Negeri
kata yang terucap, disetiap nafas yang ku hela, di setiap obyek yang aku pandang, setiap jalan yang ku tapaki,semua terasa sesak….suram….terjal…..
Aku hanya seorang diri disebuah negeri yang penuh dengan sandiwara kata….
Aku hanya seorang diri dalam riuhnya pesta kekuasaan….
Aku hanya seorang diri dalam gelap hilangnya keadilan…. Disetiap
Aku hanya seorang diri dalam diam ku, dalam muak ku, dalam marah ku,dan dalam linagan air mata ku……
Haruskan aku seperti ini selamanya??selama hidupku???dan selama mereka buta tenggelam dalam dunia yang fana???
Aku disini hanya ingin mendapatkan Ridho Tuhan ku…..
Aku disini hanya ingin menerapkan apa yang seharusnya di terapkan di muka bumi ini…
Aku disini hanya ingin mendapat kemulyaan dari Tuhan ku…
Sungguh Hanya Tuhan kulah yang ku tuju……
Tapi kenapa????kenapa semuanya seperti ini???
Aku ternodai oleh aturan dinegeri ini…
Aku dihinakan dengan undang-undang sandiwara kata….
Aku di hianati oleh Amir ku……
Sampai kapan ini?????
Sampai kapan akan berakhir???
Aku milik Tuhan ku…tapi kenapa aku tak bisa menerapkan semua aturannya dalm diri ku juga orang-orang di seluruh pelosok dunia, tidak ada yang bisa menjaga Aqidah umat ini…
Tak ada yang memberikan jaminan kemulyaan di dunia hingga menuju ke akhirat…..
Inikah hidup????inikah sebenarnya hidup???Amir ku……
Mampukah kau mendengar rintihan hati ini????
Mampukah kau menyadari semua ini????
Mampukah kau……..
Kamis, 05 Mei 2011
Indonesia siaga satu
Maraknya teror bom yang ada di Indonesia membuat polisi terlebih tim gegana bekerja keras untuk mengusut tuntas kasus ini, mulai dari bom buku yang terjadi akhir maret lalu yang ditujukan pada pimpinan jaringan islam liberal(JIL),atas nama Ulil abshor,ketua pemuda Pancasila,ahmad dhani dan gores mere,sampai penjinakan rangakaian bom yang ada disekitar Gereja Christ Chatedral Serpong. Benang merah antara kejadian satu dengan kejadian lain terus di usut, Semua itu dilakukan semata-mata untuk menciptakan rasa aman dinegeri ini,hingga saat ini pemerintah menetapkan bahwa Indonesia berada pada posisi siaga satu, status ini akan berlanjut hingga minggu 24 april 2011.
Namun,sungguh disayangkan ketika Islam serasa dipojokkan dengan adanya teror bom ini,terlebih mereka yang berjuang untuk menegakkan syariah dan khilafah,memang benar itu adalah impian umat islam karena umat rindu dengan hukum-hukum yang bersal dari Allah,tetapi bukan seperti ini islam mengajarkan kepada umat dalam upaya menegakkan syariah dan khilafah di bumi ini. Metodologi yang digunakan adalah metodologi yang digunakan oleh Nabi Muhammad saw untuk mendirikan Negara Islam pertama di Madinah. Nabi Muhammad saw membatasi aktivitas penegakan Negara Islam pada ranah intelektual dan politik. Beliau saw mendirikan negara Islam tanpa menempuh jalan kekerasan. Beliau saw berjuang memobilisasi opini publik agar mendukung Islam dan berupaya mempengaruhi kelompok elit intelektual dan politik pada masanya. Meskipun mengalami beragam penyiksaan dan pemboikotan, Nabi Muhammad saw dan golongan Muslim perdana tidak pernah mengambil jalan kekerasan. Untuk itu umat islam yang berjuang menegakkan syariah dan khilafah mengadopsi perjuangan intelektual dan politik ini karena kami yakin ini merupakan jalan yang benar dan efektif untuk menegakkan kembali Khilafah Islam. Karena itu,secara proaktif menyebarkan pemikiran-pemikiran Islam, baik yang bersifat intelektual maupun politik, secara luas di masyarakat-masyarakat Muslim sembari menantang status quo yang ada,menyuarakan Islam sebagai jalan hidup yang komprehensif yang mampu menangani seluruh urusan bermasyarakat dan bernegara. kami juga mengemukakan pandangan-pandangannya terhadap peristiwa-peristiwa politik dan menganalisisnya dari perspektif Islam. Adapun menyebarkan pemikiran-pemikirannya melalui diskusi dengan masyarakat, lingkar studi, ceramah, seminar, pendistribusian leaflet, penerbitan buku dan majalah dan via Internet. Semua itu dirasa sangat efektif untuk saat ini,oleh karena itu dengan tegas,Islam bukanlah agama keras seperti yang tercemin sekarang.
Oleh sebab itu,asumsi bahwa islam adalah teroris haruslah dibuang jauh-jauh dari benak masyarakat karena itu sangat menyakitkan bagi umat islam yang bersungguh-sungguh menegakkan syariah dan khilafah dengan metode yang sesuai dengan manhaj kenabian.
mohon saran dan kritiknya.
_hoshi-
Senin, 28 Maret 2011
Sejahtera dibawah naungan daulah khilafah
Selama tiga belas abad, kaum Muslim menikmati kemakmuran yang tak tertandingi melalui penerapan aturan-aturan Islam. Kemakmuran ini tidak hanya terbatas pada kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan obat-obatan, seperti yang kita sering dengar, melainkan juga pada semua aspek kehidupan; termasuk kesejahteraan sosial, kesehatan dan pendidikan.
Hal ini tidaklah aneh karena Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS al-Anbiya [21]: 107).
Pemeliharaan Kesehatan
Dalam Islam, kesehatan individu sangat dihargai, dan hal ini dianggap sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, bersama dengan makanan dan keamanan. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa pun yang dalam satu harinya bebas dari penyakit, aman dari gangguan orang lain, dan memiliki makanan pada hari itu, maka hal itu adalah seperti memiliki dunia seisinya.” (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Dalam Islam, memberikan kesehatan gratis dan pemeliharaan kesehatan yang layak adalah tanggung jawab Daulah Islam terhadap semua warganya; baik mereka kaya-miskin, Muslim-non-Muslim. Rasulullah saw. bersabda:
Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari).
Memberikan kesehatan gratis kepada masyarakat adalah hal yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. di Madinah. Ibnu Ishaq melaporkan dalam buku Sirah-nya, bahwa sebuah kemah yang dibangun di masjid dan diberi nama seseorang yang bernama Rufaidah dari suku Aslam digunakan untuk memberikan diagnosis dan pengobatan untuk orang-orang secara gratis untuk orang-orang kaya maupun miskin. Ketika Saad bin Muadz ra. terkena panah selama Perang Khandaq, Rasulullah saw. mengatakan kepada para Sahabat untuk membawanya ke Kemah Rufaidah. Rufaidah dibayar oleh negara dari ghanimah sebagaimana yang disebutkan Al-Waqidi dalam bukunya yang berjudul Al-Maghazi.
Memberikan layanan kesehatan kepada warga negara terus berlanjut sepanjang Khilafah Islam dan kaum kafir sendiri yang menjadi saksi atas hal ini. Sebagai contoh, Gomar, salah seorang pemimpin pada masa Napoleon selama perang yang dilancarkan Prancis (1798-1801) untuk menduduki Mesir, menggambarkan pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan berusia 600 tahun yang ia lihat, “Semua orang sakit biasa pergi ke Bimaristan (rumah sakit) bagi kaum miskin dan kaum kaya, tanpa perbedaan. Dokter berasal dari banyak tempat di wilayah timur dan mereka juga mendapat bayaran yang baik. Ada apotek yang penuh dengan obat-obatan dan instrumentasi, dengan dua perawat yang melayani setiap pasien. Mereka yang memiliki gangguan fisik dan kejiwaan diisolasi dan dirawat secara terpisah. Mereka kemudian dihibur dengan cerita-cerita dari orang-orang yang telah sembuh (baik secara fisik maupun kejiwaan) dan akan dirawat di bagian rehabilitasi. Ketika mereka selesai dirawat, setiap pasien akan diberikan lima keping emas sehingga para mantan pasien itu tidak perlu bekerja segera setelah ia meninggalkan rumah sakit.”
Seorang orientalis Prancis, Prisse D’Avennes, menggambarkan rumah sakit yang sama dengan mengatakan, “Kamar-kamar pasien terasa dingin karena menggunakan kipas besar yang terpasang dari satu sisi ruang hingga ke sisi yang lain, atau terasa hangat karena parfum yang dihangatkan. Lantai-lantai kamar pasien itu ditutupi oleh cabang-cabang (Hinna) pohon delima atau pohon aromatik lainnya.”
Kesejahteraan
Kesejahteraan masyarakat ditunjukkan oleh hadis Rasulullah saw. bersabda, “Siapa pun yang meninggalkan uang, uang itu bagi yang mewarisinya, dan siapa pun yang meninggalkan anak yang lemah, maka (tanggungjawabnya) kepada kita.” (HR Muslim).
Dalam hal ini, negara bertanggung jawab untuk menyediakan kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal dan pakaian bagi mereka yang tidak mampu karena alasan apa pun. Kesejahteraan rakyat di bawah kekuasaan Islam adalah hasil dari penerapan hukum Allah SWT. Pemahaman bahwa Khilafah/Negara memiliki tanggung jawab terhadap rakyat adalah berdasarkan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar ra., sebagai khalifah saat itu, yang melayani seorang perempuan yang jompo dan buta yang tinggal di pinggiran Madinah. Khalifah Umar bin al-Khattab ra. ingin juga merawatnya, tetapi menemukan bahwa Khalifah Abu Bakar ra. telah memasak makanan, membersihkan rumah dan mencuci pakaiannya untuknya. Inilah pemahaman dan rasa tanggung jawab yang sama, yang membuat Umar ra., yang ketika itu adalah khalifah, untuk kembali ke Baitul Mal. Ia memikul sendiri karung gandum makanan untuk kembali menuju rumah seorang perempuan dan anak-anaknya yang tinggal di luar Madinah, lalu memasak makanan untuk mereka. Dia menolak tawaran para pembantunya untuk membawakan karung itu dengan mengatakan, “Maukah engkau memikul dosa-dosa saya dan tanggung jawab atas saya pada Hari Perhitungan?”
Perawatan kesehatan juga berlaku untuk anak-anak. Selama masa pemerintahan Khalifah Umar ra., ada kebijakan untuk memberikan upah setiap kali seorang anak selesai masa menyusui. Namun, suatu hari Khalifah Umar ra. mendengar seorang bayi menangis kemudian dia meminta kepada ibu anak itu untuk, “Bertakwalah kepada Allah SWT atas bayi Anda dan rawatlah dia.” Kemudian ibu itu menjelaskan bahwa dia berhenti menyusui anaknya lebih awal agar dia bisa menerima upah dari Negara. Keesokan harinya, setelah fajar, Khalifah Umar ra. merevisi kebijakan itu dengan membayar upah pada saat kelahiran. Khalifah Umar ra. takut Allah SWT akan meminta pertanggungjawabannya dan dia berkata sambil menangis, “Bahkan atas bayi-bayi, ya Umar!” — yang berarti bahwa ia akan diminta pertanggungjawaban karena tindakannya yang merugikan anak-anak.
Hewan-hewan juga dilindungi oleh sang Khalifah. Ibn Rusyd al-Qurthubi meriwayatkan dari Malik bahwa Khalifah Umar ra. Pernah melewati seekor keledai yang dibebani dengan tumpukan batu. Menyadari bahwa hewan itu terlihat menderita maka dia mengeluarkan dua tumpukan batu yang diambil dari bagian belakang. Pemilik keledai itu, seorang wanita tua, datang kepada Khalifah Umar ra. dan berkata, “Wahai Umar, apa yang kau lakukan dengan keledaiku? Apakah kamu memiliki hak untuk melakukan apa yang engkau lakukan?” Khalifah Umar ra. Mengatakan, “Apa yang menurutmu yang membuatku mau mengisi jabatan ini (Khalifah)?” Yang dimaksudkan oleh Khalifah Umar ra. adalah bahwa mengambil tanggung jawab sebagai khalifah, Umar ra. bertanggung jawab atas semua hukum Islam, yang meliputi pula tindakan yang disebutkan oleh hadis Rasulullah saw., “Berhati-hatilah untuk tidak membebani punggung hewan, karena dengannya Allah SWT telah membuat mereka bisa membawamu ke tempat-tempat yang sulit bagimu untuk mencapainya, dan menciptakan bumi sehingga kamu dapat memenuhi kebutuhanmu di atas muka bumi.” (HR Abu Dawud).
Artinya, kita harus mengasihi binatang dan tidak membebani mereka. Pola-pola penyediaan bagi orang-orang dan perawatan dengan baik bagi mereka berlanjut terus pada masa Khilafah sampai saat kehancurannya pada tahun 1924. Ibnu al-Jauzi melaporkan dalam bukunya mengenai masa hidup Khalifah Umar bin Abdul Aziz, bahwa Khalifah Umar ra. pernah bertanya kepada para gubernurnya di seluruh negeri untuk menghitung jumlah semua orang buta, orang-orang berpenyakit kronis dan orang-orang cacat. Dia kemudian memberikan seorang pemandu bagi setiap orang buta dan dua orang pembantu bagi setiap orang berpenyakit kronis atau orang cacat di seluruh negeri Islam yang membentang dari Cina di timur hingga ke Maroko di barat, dan Rusia di utara hingga ke Samudra Hindia di selatan. Ibnu al-Jauzi juga meriwayatkan bahwa Khalifah Umar ra. meminta para gubernur itu untuk membawa kepadanya orang-orang miskin dan tidak mampu. Begitu mereka datang, beliau memenuhi semua kebutuhan mereka yang diambil dari Baitul-Mal. Dia kemudian bertanya siapa di antara mereka yang punya hutang dan tidak mampu membayarnya. Ia kemudian membayarkan hutang-hutang mereka secara penuh dengan dana yang diambil dari Baitul-Mal. Lalu dia bertanya siapakah yang ingin menikah tetapi tidak mampu. Lalu ia membayar biaya untuk pernikahan mereka. Kesejahteraan dan kemakmuran rakyat di bawah kekuasaan Islam sedemikian baiknya selama masa pemerintahan Khilafah Umar bin Abdul Aziz sehingga negara tidak dapat menemukan orang-orang miskin yang berhak untuk mendapatkan zakat.
Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa pada masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, Negara membangun dan merawat masjid-masjid, membangun jalan, memenuhi kebutuhan rakyat, memberi uang untuk orang-orang cacat dan orang-orang sakit dan memerintahkan mereka untuk tidak mengemis melainkan meminta kepada Negara jika mereka tidak memiliki sesuatu yang mencukupi mereka. Dialah khalifah pertama yang membangun dan melembagakan Bimaristan (rumah sakit). Ia menugaskan seorang pembantu bagi setiap orang cacat, seorang pemandu bagi setiap orang buta, memberikan gaji bagi para imam masjid dan membangun “pemondokan “ bagi para pendatang dari luar dan pelancong dimana pun di wilayah Daulah Islam tersebut.
Selama masa Khilafah Umayah dan Khilafah Abbasiyah, rute para pelancong dari Irak dan negeri-negeri Syam (sekarang Suriah, Yordania, Libanon dan Palestina) ke Hijaz (kawasan Makkah) telah dibangun dengan dilengkapi “pondokan” di sepanjang rute yang dilengkapi dengan persediaan air, makanan dan tempat tinggal sehari-hari untuk mempermudah perjalanan bagi mereka. Sisa-sisa fasilitas ini dapat dilihat pada hari ini di negeri-negeri Syam. Catatan mengenai wakaf untuk beberapa rumah sakit di negeri-negeri Syam membuktikan hal ini. Sebagai contoh, ada catatan tentang wakaf Rumah Sakit An-Nuri di Allepo (Suriah) yang menyebutkan bahwa bagi setiap orang sakit mental ditugaskan dua orang pembantu yang bertanggung jawab yang memandikannya sehari-hari, menggantikan dengan baju yang bersih, dan membantunya melakukan shalat (jika mereka dapat melakukannya) dan mendengarkan al-Quran, dan menemaninya berjalan/berada di udara terbuka untuk bersantai.
Khilafah Usmani melakukan kewajiban ini juga. Hal ini terlihat dalam melayani masyarakat dengan membangun jalan kereta Istanbul-Madina yang dikenal dengan nama “Hijaz” pada masa Sultan Abdul Hamid II untuk memudahkan perjalanan para peziarah ke Makkah serta untuk meningkatkan integrasi ekonomi dan politik di daerah Arab yang jauh. Kaum Muslim kemudian bergegas untuk menyumbang dan menjadi relawan untuk membangun jalur kereta api itu, Khilafah Usmani menawarkan jasa transportasi kepada orang-orang secara gratis.
Ini hanya sebuah gambaran mengenai bagaimana kehidupan masyarakat di bawah kekuasaan Islam dulu pada masa Khilafah. Semoga Allah SWT membantu kita semua bekerja untuk mewujudkannya dan membuat kita bisa menyaksikannya dan menikmati keberadaannya lagi. Amin. [RZ Aulia: www.khilafah.com]
Selasa, 08 Maret 2011
puisi
PERJUANGAN TANPA HENTI
Ritangan, Deru, debu
hamparan Kesulitan dan penghalang
Senantiasa mengiringi langkahmu
Ku tahu itu kewajiban
Ku tahu itu keharusan
menghadapi semua keraguandan keputusasaan
Ingatlah!!
Wahai engkau pejuang tanpa henti
Hidup ini tak lebih dari sebuah perjalanan
Perjalanan menuju kepada-Nya
Engkaukah orang-orang
yang akan melanjutkan kehidupan islam
Di muka bumi ini
Akupun tahu wahai Pejuang tanpa henti
Gerak kita senantiasa diawasi oleh singa-singa Buas
Yang Selalu siap Menerkam dan menerjang Kita
Disaat kita lengah
DIsaat kita guncang
Wahai pejuang tanpa henti
perjuangan kita belum berakhir
Perjuangan kita tidak akan berakhir
Selama islam Belum mencapai kejayaan
Di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah
Allhu Akbar
Jumat, 25 Februari 2011
kenangan. . .
saat mata ini tak mampu melihatmu... aku menangis dan berharap airmata kita akan bertemu di telaga salsabila
saat tangan ini tak mampu merengkuh... aku memegang jari-jariku dan berharap kita masih memegang tali agama Allah
saat kaki ini tak mampu mendekat padamu... aku berlari ke masjid dan berharap kita masih berlari walau tertatih mengejar surga Allash
saat telinga ini tak mampu mendengar suaramu... aku merapatkan diri dan berharap kita masih mendengarkan alunan ayat-ayat qur'an
saat lidah ini merasa lezatnya nikmat Allah ... maka aku berdoa engkaupun selalu mencerna nikmat yang sama
saat saat kita tidak pernah bersama lagi.... maka sebenarnya kita selalu bersama-sama. dalam nikmat alam yang disempurnakn hanya untuk kita.
aku bersyukur pada Tuhanku
semoga Allah meRahmati dan meRidhoimu saudaraku....
Selasa, 22 Februari 2011
KUPAS TUNTAS KESESATAN AHMADIYAH
Di Pangkalpinang, beberapa kali terjadi debat anatara Ahmadi dan non-ahmadi, kemudian hasilnya diekspos di Harian Lokal. Tapi tidak ada berita yang memihak Ahmadiyah. Saya pernah bikin semacam artikel pembelaan, tapi tidak dimuat di harian lokal tersebut.
Kemudian terjadi debat lagi, diekspos di koran lagi, tapi tetap nadanya mirin. Maka saya coba membuat pembelaan dengan gaya bahasa miring, tapi tetap juga tidak dimuat di koran. so di muat di koran pribadi saja
Majelis Ulama Indonesia dalam Munas II tahun 1980 menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah Jamaah di luar Islam, sesat dan menyesatkan. Fatwa yang sama dikeluarkan pada tahun 2005 dalam suatu Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia melalui Musyawaran Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426H/ 26-29 Juli 2005 M yang dituangkan dalam Surat Keputusan MUI Nomor: 11/Munas VII/MUI/15/2005.
Bukan hanya di Indonesia, jauh sebelumnya sudah ada keputusan serupa dalam level internasional. Pada tahun 1974, ulama Islam dari 124 negara menyelenggarakan pertemuan di Mekah yang diprakarsai oleh LigaMuslim Dunia (Rabithah al Alam al Islami). Pertemuan itu menghasilkan keputusan bahwa tokoh dan pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad dan para pengikutnya adalah ingkar.
Keputusan baik nasional maupun internasional tersebut diambil karena ajaran-ajaran yang dikembangkan oleh Ahmadiyah berbeda dengan mainstream kaum muslimin di seluruh dunia (selanjutnya penulis akan menyebutMainstream Kaum Muslimin di Seluruh Dunia dengan Non-Ahmadi). Beberapa ajaran Ahmadiyah yang menyimpang manurut Non Ahmadi antara lain:
Ahmadiyah/Qadianisme meyakini adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW, sedangkan Non-Ahmadi berdasarkan al Qur’an Karim menyatakan sesudah Nabi Muhammad tidak akan ada lagi Nabi yang diturunkan. “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. (QS. al Ahzab: 40)
Atas tuduhan ini dalam bukunya Mirza Ghulam Ahmad (MGA) memberi bantahan:
“Inti dan saripati agama kami tersimpul dalam kalimah: LaaIlaaha Illallaah Muhammadur Rasuulullah. Itikad yang kami anut di dunia dan dengan karunia serta taufik Allah, bersama kalimat itu kami akan berlalu dari alam fana ini kelak, ialah Sayyidina wa Maulana Muhammad Musthafa shallallaahu‘alaihi wasallam adalah Khaataman-Nabiyyiin. Di tangan beliau agama telah menjadi genap dan nikmat Allah telah mencapai derajat yang sempurna. Dengan perantaraan agama itu manusia berjalan di atas jalan yang lurus dan dapat mencapai hadhirat AllahTa’ala…” (Izalah Auham, hlm. 169-170)
Berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an Karim Surat
1:6, Tunjukilah kami jalan yang lurus
1:7, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat
4:68, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus
4:69, Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang- orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya
22:75, Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat
(memilih fi’il mudhori, berarti untuk masa kini dan masa yang akan datang)
3:179, Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mu’min). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allahmemilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya
(memilih fi’il mudhori, berarti untuk masa kini dan masa yang akan datang)
6:124, Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah”. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.
7:35, Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Apakah anda bukan anak-anak Adam? Anak-anak Adam ada sampai kiamat.
44:5, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul,
(mengutus fi’il mudhori, berarti untuk masa kini dan masa yang akan dating)
Menurut ahmadiyah makna QS 33:41 menjadi aneh kalau Khataman Nabiyyin diartikan sebagai “penutup para Nabi”.
Firman Allah tersebut asbabun nuzulnya adalah ketika Nabi menikahi Zainab, janda dari anak angkatnya Zaid. Hal tersebut merupakan perbuatan memalukan pada jaman tersebut, karena pada jaman jahiliyah anak angkat sama dengan anak kandung. Nabi Muhammad menikahi janda anak angkatnya, maka Nabi Muhammad dicap oleh kaum Quraish saat itu “telah melakukan perbuatan memalukan”. Ayat ini diturunkan dengan tujuan untuk membersihkan Nabi Muhammad. Bisakah perbuatan memalukan dibersihkan dengan menyebut Nabi Muhammad “Penutup Para Nabi” ?
Ahmadiyah memaknai Khataman Nabiyyin sebagai Nabi yang paling afdhol, Nabi yang paling mulia, Nabi yang terunggul dari semua Nabi, Nabi yang mengesahkan kenabian seluruh para Nabi (dimana Allah meminta semua Nabi dari Adam sampai Nabi terakhir di akhir jaman bersama umat-umatnya bersaksi pada Nabi Muhammad – QS 3:81). Nabi Muhammad memang bukan Bapak seorang lelaki, tetapi ia adalah Bapak Ruhani semua bangsa, darinya akan lahir anak-anak ruhani yang berpangkat orang-orang saleh, orang-orang yang mati syahid, para shadiqin, nabi-nabi (QS 4:69)
Khataman adalah istilah umum yang artinya bukan hanya “penutup” :
Hadhrat Ali r.a. adalah “khaatam-ul-auliya” (Tafsir Saafi, padaSurah al-Ahzab) Apakah setelah Hz. Ali r.a. wafat tidak adaauliya (wali) lagi? Tentu tidak. Banyak kemudian hadir waliwali
Imam Syafi’i r.h. (Tafsir Saafi, pada Surah al-Ahzab) 767-820) juga disebut “khaatam-ul-auliya” (AlTuhfatus-Sunniyya, hlm. 45)
Habib Shirazi juga dihormati sebagai “khaatam-usy-syu’araa” di Iran (Hayati Sa’adi, hlm. 87)
Abu Tamaam (804-845), seorang penyair yang dijuluki sebagai“khaatam-usy-syu’araa” (Dafiyaatul A’ayaan, vol. 1, hlm. 123,Kairo). Apakah setelah Habib Shirazi dan Abu Tamaam wafat tidak ada penyair lagi? Tentu tidak. Banyak kemudian hadir penyair-penyair terkenal dalam dunia Islam.
Imam Muhammad Abduh dari Mesir digelari “khaatam-ula’imma”( Tafsir Saafi,Tafsir Al-Fatihah, hlm. 14 Apakah tidak ada lagi pemimpin (Imam) agama setelah Muhammad Abduh?
Al-Sayyid Ahmad Al-Sanusi dinamakan “khaatam-ulmujahidiin”(Akhbaar Al-Jaami’atul Islamiyyah, Palestina, 27 Muharram 1352 H) Apakah Sayyid Ahmad Sanusi merupakan mujahid terakhir/penutup di Palestina?
Dalam Bible bahasa Arab kita temukan kata “khaatam-ulkamaal”(gambar kesempurnaan). Kita lihat dalamYehezkiel 28:12 versi bahasa Indonesia sebagai berikut:“Hai anak manusia, ucapkanlah suatu ratapan mengenai raja Tirus dankatakanlah kepadanya: Demikianlah firman Tuhan Allah: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah.”( Lembaga Alkitab Indonesia,Alkitab, (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia,199
Dalam Hadits kita temukan “khaatam-ul-muhajiriin.” Rasulullahs.a.w. bersabda: “Tentramlah wahai pamanku, sesungguhnyaengkau adalah khaatam-ul-muhajiriindalam hijrah, sebagaimana aku adalah khaataman-nabiyyiin dalam kenabian.” (H. R. Ibnu Asakir dan Kanzul‘Ummal, Alaudin Alhindi, Muassatur Risalah,Beirut, 1989, jld.
XIII, hlm. 519, Hadits no. 37339) Apakah setelah Hz. Abbas r.a. tidak ada lagi orang yang berhijrah ke Medinah? Apakah Hz. Abbas r.a. adalah orang yang terakhir berhijrah keMedinah? Tentu tidak.
Kitab Suci ahmadiyah adalah Tadzkiroh. Non Ahmadiyah meyakini bahwa wahyu adalah setiap perkataan Allah SWT kepada Nabi dan Rasul. Setiap wahyu yang diturunkan oleh Allah adalah syari’at. Jika ada orang yang mengaku menerima wahyu, berarti dia menganggap dirinya Nabi. Dan karena dia mengaku menerima wahyu, berarti dia membawa syariat.
MGA mengaku menerima wahyu, berarti dia mengakui dirinya seorang Nabi yang turun setelah berlalunya Nabi Muhammad. Wahyu-wahyu yang dia terima dibukukan dalam kitab yang diberi nama Tadzkiroh, berarti Tadzkiroh adalah kitab syariat, berarti Tadzkiroh adalah kitab suci orang ahmadiyah.
Ahmadiyah meyakini bahwa Allah tidak hanya bercakap-cakap dengan Nabi. Allah bercakap-cakap dengan Firaun, bercakap-cakap dengan semut, bercakap-cakap dengan lebah, bercakap-cakap dengan Maryam. Apakah Firaun, semut, lebah, dan Maryam adalah Nabi yang punya kitab syariat?
Non Ahmadi menyebut segala perkataan Allah SWT kepada Firaun, semut, lebah, dan Maryam itu bukan wahyu, tetapi adalah “pengajaran/ilham/irsyad”
Ahmadi memberi istilah atas “pengajaran/ilham/irsyad” tersebut dengan istilah “wahyu non syariat”
Wahyu yang diterima MGA sama dengan wahyu yang diterima oleh Maryam, Semut, Lebah, Firaun. MGA menerima wahyu-wahyu yang kemudian menjadi dasar dia mengarang kurang lebih 86 buah buku. Tiga puluh tahun setelah MGA meninggal Muhammad Zafrullah Khan (mantan Hakim Mahkamah Agung Internasional/PBB) mengumpulkan semua wahyu yang diterima MGA yang tersebar di 86 buku kemudian menyusunnya ke dalam satu kitab yang diberi nama “Tadzkiroh” yang dalam bahasa Arab artinya “Pengajaran”
MGA menyatakan ““Tidak ada kitab kami selain Qur’an Syarif. Dan tidak ada rasul kami kecuali Muhammad Musthafa shallallaahu ‘alaihiwasallam. Dan tidak ada agama kami kecuali Islam. Dan kita mengimani bahwa nabi kita s.a.w. adalah Khaatamul Anbiya’, dan Qur’an Syarif adalah Khaatamul Kutub. Jadi, janganlah menjadikan agama sebagai permainan anak-anak. Dan hendaknya diingat, kami tidak mempunyai pendakwaan lain kecuali sebagai khadim Islam. Dan siapa saja yang mempertautkan hal [yang bertentangan dengan] itu pada kami, dia melakukan dusta atas kami. Kami mendapatkan karunia berupa berkat-berkat melalui Nabi Karim s.a.w. Dan kami memperoleh karunia berupa makrifat-makrifat melalui Qur’an Karim. Jadi, adalah tepat agar setiap orang tidak menyimpan di dalam kalbunya apa pun yang bertentangan dengan petunjuk ini. Jika tidak, dia akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah Ta’ala. Jika kami bukan khadim Islam, maka segala upaya kami akan sia-sia dan ditolak, serta akan diperkarakan.” (Maktubaat-e-Ahmadiyyah, jld. 5, no. 4)
Jadi para Ahmadi tetap bebal mengakui bahwa Kitab Suci mereka dari dulu sampai kiamat nanti adalah “Al Qur’anul Karim” yang hak kekayaan intelektual (HaKI) nya adalah milik Allah SWT, tidak akan ada satu kitab pun yang dapat menyaingi keindahan Al Quran,
Al Quran adalah satu-satunya kitab yang kekal/tetap eksis sampai berakhirnya dunia ini, Al Quran adalah batu ujian bagi kitab-kitab pengajaran Islam. Semua kitab suci sebelum Al Quran diragukan keasliannya/kesuciannya.
Kitab suci lain telah disempurnakan dalam bentuk Al Quran. QS 15: 9, “Allah lah yang menurunkan Al Qur’an, dan Dia benar-benar akan memeliharanya”, atas dasar tersebut, Ahmadi meyakini tak akan ada satupun makhluk di dunia ini yang bisa membajak/menodai Al Qur’an, dan Ahmadi meyakini, jangankan satu ayat, satu huruf pun, bahkan satu titik pun dalam Al Qur’an tak akan ada yang dimanshuk/batalkan.
Non Ahmadiyah menyatakan bahwa MGA/Ahmadiyah merupakan suatu bentukan dan hamba imperialis “negara kafir” Inggris, untuk melemahkan perjuangan kaum Muslimin di India, maka Inggris menganggap perlu untuk membuat boneka, dan boneka itu adalah MGA/Ahmadiyah. Karenanya MGA menyampaikan kepada umat Islam untuk tidak mengangkat senjata melawan Inggris.
Jemaat Ahmadiyah pada saat itu tidak mendapatkan cukup alasan untuk melakukan jihad dengan senjata kepada pemerintah Inggris, karena syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an, Sunnah maupun Hadits mengenai pemberlakuan jihad dengan senjata tidak terpenuhi.
Dengan kata lain, kerajaan Inggris di Hindustan pada waktu itu tidak melakukan tindakan zalim untuk menghapuskan agama Islam serta memerangi kaum muslimin, dan pemerintah Inggris telah memberikan kebebasan penuh bagi setiap penduduk di Hindustan untuk memeluk serta menjalankan ibadah agamanya masing-masing. Sebagaimana terjadi pada Malaysia danBrunei, kedua negara ini tak pernah mengangkat senjata. Mereka mendapat kedulatan negara berupa pemberian dari Kerajaan Inggris.
QS 22 : 39-41, Allah memerintahkan berperang tidak untuk memusnahkan agama lain, bahkan untuk melindungi berbagai agama. Ayat ini menerangkan dengan kata-kata yang tegas, bahwa perang agama dapat dibenarkan jika suatu bangsa atau negara atau pemerintahan melarang orang mengatakan Rabbunallah – “Tuhan kami hanyalah Allah” memaksa orang-orang agar keluar dari Islam, atau mencegah dengan kekerasan agar orang tidak menerima Islam, atau membunuhi orang karena beragama Islam. Jadi, kepada bangsa/Negara yang seperti itu jihad dengan senjata dapat dilakukan.
Jika peperangan terjadi antarbangsa, antarsuku, atau antarkelompok, peperangan yang dimensi politik, alasan keamanan, mempertahankan diri dan sebagainya. Peperangan yang demikian bukanlah peperangan atas nama Tuhan (agama).
Hindustan saat itu dikuasai oleh Kaum Sihk yang banyak menghancurkan masjid-masjid, melarang orang adzan, mencabuli perempuan ““Rupanya kaum Sikh ini terdorong oleh rasa benci terhadap kaum muslimin, wanita dan anak-anak dibantai tanpa ampun, kampung halaman dimusnahkan, perempuan-perempuan dicabuli dan beribu-ribu mesjid dihancurkan.” (Encyclopaedia of Sikh Literature, hlm. 1127).
kerajaan Inggris menguasai Hindustan dan mengambil alih kekuasaan Sikh, pada tanggal 1 November 1854 di Allahabad, pemerintahan Inggris atas nama Ratu Victoriamemberi kebebasan bagi setiap penduduk untuk meyakini dan menjalankan ibadahnya masing-masing dengan rasa aman dan berdasarkan hukum berhak memperoleh perlindungan serta keamanan yang setara tanpa kecuali.
Sebagaimana Hijrah pertama Umat Islam ke Kerajaan Najashi/Nasrani dan meminta pertolongan pada Raja Negus (Raja Kristen yang penuh toleransi dan keadilan), demikianlah MGA memperlakukan Inggris yang telah menolong kaum muslimin dari derita kaum Sikh.
Ulama yang menentang jihad pada Inggris saat itu bukan hanya MGA, tapi juga ulama-ulama non-ahmadi:
Maulana Ismail Syahid menganggap jihad terhadap pemerintah ini sebagai sesuatu yang tidak dibenarkan.” (Isyaa’atus-Sunnah, jld. 9, no. 1, hlm.11-12)
Fatwa dari pemimpin golongan Ahlul Hadits, Maulvi Muhammad Hussein Batalwi:“Bagi kaum muslimin diHindustan, adalah haram untuk menentang dan memberontak terhadap pemerintah Inggris.“ (Risalah Isyaa’atus-Sunnah, jld. 6, no.10, hlm. 287); Orang-orang Islam yang terlibat dalam pemberontakan tahun
1857, perbuatan mereka adalah dosa besar, dan berdasarkan Al-Qur’an serta Hadits, mereka adalah pembuat kekacauan,pemberontak, dan memiliki karakter setan.” (Risalah Isyaa’atus-Sunnah, jld. 9, no.10); “Berperang melawan pemerintah ini atau memberi bantuan jenis apa pun kepada orang-orang yang memerangi pemerintah ini (bahkan jika mereka adalah saudara-saudara muslim kita),jelas-jelas merupakan pemberontakan dan haram.” (Risalah Isyaa’atus-Sunnah, jld. 9, no.10, hlm. 38-4
Fatwa dari para Mufti Mekkah al-Mu’azzhamah:
“(1) Jamaluddin bin Abdullah Syekh Umar, Mufti MazhabHanafi dari Mekkah al-Mukarramah, (2) Hussein bin Ibrahim, Mufti Mazhab Maliki dari Mekkah al-Mu’azzhamah, (3) Ahmad bin Dzahni, Mufti Mazhab Syafi’i dari Mekkah al-Mu’azzhamah, telah menerbitkan fatwa yang menyatakan bahwa Hindustan
adalah Daarus-Salaam (kawasan yang aman damai).” (Sayyid Atta’ullah Syah Bukhari, hlm.31, sebuah buku oleh Shorish Kashmiri
Sir Sayyid Ahmad Khan pendiri Darul Uluum (Universitas) Aligarh menulis dalam bukunya Asbaab-e-Baghaawat-e-Hind (Sebab-Sebab Pemberontakan di Hindustan) sebagai berikut: “Tatkala umat Islam memperoleh perlindungan yang penuh kedamaian dari pemerintah [Inggris] kita, maka umat Islam tidak mempunyai hak untuk ber-jihaddalam wilayah kekuasaan hukum pemerintah ini. Sekitar dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu, seorang tokoh terkenal bernama Maulvi Muhammad Ismail telah mengajarkan pesan jihad di Hindustan, dan mendorong orang-orang agar ber-jihad. Pada saat ini ia dengan jelas mengatakan bahwa rakyat Hindustan yang hidup dengan aman di bawah perlindungan pemerintah Inggris, tidak memiliki hak untuk melakukan jihad di Hindustan.” (Asbaab-e-Baghaawat-e-Hind, hlm. 4, terbitan UrduAcademy, Sind, Mission Road, Karachi, Pakistan
Syed Ali-al-Hairi, seorang mujtahid Syi’ah yang terkenal menyatakan: “Kami bangga terhadap suatu pemerintah yang di dalamnya menjadikan keadilan dan kebebasan beragama sebagai hukum, hal yang serupa tidak dapat ditemukan di pemerintahan lainnya di dunia ini. Oleh sebab itu, saya menyatakan bahwa sebagai balasan atas sikap dermawan ini, setiap orang Syi’ah seyogyanya bersyukur kepada pemerintah Inggris dengan hati yang tulus dan menghargai kedermawanannya.” (MauizaTahreef Qur’an, April 1923
An-Nadwah, suatu institusi dari Nadwatul Ulama menulis: “Tujuan hakiki dari institusi pendidikan ini adalah untuk menghasilkan para ulama agama yang berpikiran jernih, dan merupakan tugas para pengkhidmat agama agar lebih mengenal berkah [kebaikan] pemerintah dan menumbuhkan
kesetiaan kepada pemerintah di negeri ini.” (An-Nadwah, jld. V, July 1908)17
Selanjutnya tertulis: “Suatu hari dihormati sebagai hari libur dalam rangka memperingati lima puluh tahun perayaan pemerintah Inggris dan sebuah telegram ucapan selamat telah dikirimkan atas nama Nadwahkepada Yang Mulia Gubernur Jenderal.“ (An-Nadwah, November 1908
MGA menyatakan Nabi Isa a.s Bani Israel, Ibnu Maryam yang hidup 2000 tahun yang lalu telah wafat secara normal di usia 120 tahun. Sedangkan Non Ahmadi percaya beliau masih hidup, seperti juga Ashabul Kahfi, seperti juga Nabi KHidir.
Allah mengangkatnya ke langit waktu Isa dikejar-kejar oleh tentara Romawi, oleh Allah SWT, Yudas (murid Isa yang berkhianat) dijadikan berwajah Isa, sehingga Yudas yang ditangkap, Yudas yang disiksa, Yudas yang disalib, sedangkan Nabi Isa aman, tentram, tiada luka-luka, tiada merasakan kesakitan, tiada menghadapi ujian, duduk enak di sebelah kanan Allah di langit. Jadi Nabi Isa tidak mati, dan tidak disalib (sholabu), tapi diserupakannya (Syubbiha) bagi mereka. Tetapi Allah mengangkatnya (rofa’ahu) kepada Nya. QS: 4:157-158.
Kesesatan Ahmadiyah adalah meyakini bahwa Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW semuanya telah wafat, termasuk Nabi Khidir, termasuk Nabi Isa a.s Bani Israel, Ibnu Maryam, QS 3:55, 3:144, 5:75, 5:117, 7:25, 21:8, 21:34-35.
Kezaliman Ahmadiyah adalah dengan mengatakan, tidak mungkin ada pertentangan dalam Qur’an.Beberapa ayat Al Quran mengatakan bahwa semua nabi (Allah tidak pernah mengatakan kecuali Nabi Isa/kecuali Nabi KHidir) telah wafat, tidak ada yang kekal, mati dan hidup di bumi.
Ahmadiyah yang kafir, sesat, menyesatkan menafsirkan “sholabu” dengan “tidak menyalibnya (sampai mati)” “Syubbiha” dengan “disamarkan” seolah-olah Nabi Isa terlihat mati, padahal sesungguhnya hanya sekarat. Ketika diturunkan dari tiang salib, tubuhnya dibawa oleh Yusuf Arimatea, dan Mariam Magdalena untuk diobati sampai sembuh. Kata “rofa’a” ditafsirkan bukan “mengangkat ke langit” tapi “diangkat derajatnya” oleh Allah, karena Nabi Isa telah menghadapi ujian berat, dipenjara, disiksa, dan disalib. Maka derajatnya diangkat oleh Allah SWT, Nabi Isa termasuk dalam 5 (lima) orang Nabi Ulul Azmi.
MGA mengklaim dirinya Nabi Isa yang oleh Non Ahmadi diyakini akan turun di akhir zaman.
Hal ini merupakan suatu kedustaan, penyimpangan dan kesesatan. Non Ahmadi menyatakan setiap Nabi adalah orang yang tidak belajar/ummi. Seperti Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, mereka tidak punya guru, tidak pernah belajar apa-apa, hanya merenung diri dalam gua, sebelum Allah kemudian mengangkat dia jadi Nabi/Rasul. Sedangkan MGA adalah pribadi yang jelas-jelas sebelumnya telah belajar Islam, telah belajar Al Qur’an.
Ahmadi berkelit mengenai kesesatan ini dengan menjelaskan bahwa, tidak semua Nabi/Rasul ummi seperti Nabi Muhammad SAW. Nabi Harun belajar pada Nabi Musa. Nabi Musa belajar pada Nabi Khidir. Nabi Isa sejak kecil dia telah berdebat dengan Ulama Yahudi. Kemudian dari umur 12 s.d 30 tahun (dalam Injil tidak ada kisah hidup Nabi Isa dari umur 12 s.d 30 tahun) Nabi Isa mengikuti/belajar pada golongan Essene (orang-orang yang menjaga kesucian Kitab Taurat dan Injil). Kisah ini dapat dibaca pada buku Nafiri Maut dari Lembah Qamran (Dead Sea Acrolls), karya Saleh A. Nahdi, Surabaya, Yayasan Raja Pena, 2001, Cet 7, hal 25.
Non-Ahmadi juga meyakini Nabi Isa yang akan turun nanti adalah Nabi Isa yang turun 2000 tahun yang lalu yang tugasnya adalah menghancurkan dajjal (ciri2 dajjal antara lain: bermata satu, baginya air laut hanya sebatas mata kaki), memecahkan salib, membunuh babi, memerangi Yahudi dan Nasrani sampai tidak ada lagi tempat sembunyi bagi mereka, bahkan pohon dan batu akan bicara memberitahu kaum Muslimin jika ada Yahudi dan Nasrani sembunyi di balik mereka.
Ahmadiyah melakukan penyimpangan keyakinan dengan mengatakan itu semua hanya perumpamaan. Nabi Isa yang akan turun bukan Nabi Isa Israeli Ibnu Maryam, tapi Nabi yang sifat-sifatnya seperti Nabi Isa, dan MGA mengaku dialah Nabi Isa dan Imam Mahdi.
Nabi Isa mengajar dengan banyak memberi tamsil/pemisalan (Matius 13:34), maka MGA juga memberikan pengajaran dengan memakai tamsil. Dajjal menurut Ahmadiyah bukan makhluk luar biasa bermata satu, dan air laut setinggi mata kakinya. Tapi itu hanya pemisalan, bermata satu adalah sistem/isme yang dianut manusia yang tidak memandang akhirat, tapi hanya duniawi saja. Islam mengajarkan keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat, “Bekerjalah seolah kamu akan hidup selamanya, Sholatlah kamu seolah akan mati esok pagi”.
Tapi Dajjal tidak. Bagi Dajjal akhirat itu tidak ada, bagi Dajjal kehidupan hanya di dunia saja, tidak ada syurga dan neraka, tidak penghakiman.
Dajjal adalah sistem hedonisme, komunisme, materialisme. Air laut bagi bagi Dajjal hanyalah semata kaki, mencerminkan betapa tinggi ilmu dajjal, betapa tinggi kemajuan tegnologi dajjal. Dengan satelit dia bisa melihat dengan jelas apa yang terkandung di dalam dan dasar laut, apa yang terkandung dalam bumi dan dalam gunung.
Inti ajaran Nabi Isa adalah “Tuhan itu Esa/Laillahailalah” dan menyebarkan kasih sayang, sesuai dengan jargon Ahmadiyah “Love for All, Hatred for None/Cinta untuk semua, dan Benci tidak untuk siapapun”
Nabi Isa berkata “sampai kiamat satu titik pun dalam Taurat tidak akan dihilangkan” MGA berkata “sampai kiamat, jangankan satu ayat, satu huruf, bahkan satu titik pun dalam Qur’an tidak akan dimansyuk/dibatalkan”
Nabi Isa mengalami nasib dimana seluruh ulama Yahudi meyakini dia Nabi Palsu, dan memaksa Penguasa saat itu, Kaisar Pilatus untuk menyalib Nabi Isa. MGA juga mengalami hal yang sama, dimana ulama seluruh dunia dibawah Rabithat al Islami mengecap MGA “kafir, sesat, menyesatkan, keluiar dari Islam, murtad, yang darahnya dihalalkan”
Nabi Isa datang kurang lebih 1400 tahun sesudah kematian Nabi Musa. MGA mendakwakan dirinya Nabi Isa, setelah kurang lebih 1400 tahun sesudah kematian Nabi Muhammad SAW.
Nabi Isa datang ketika Yahudi sedang terpecah belah, dan dikuasai pihak asing Romawi. MGA datang ketika negara-negara Islam sedang dalam masa kejatuhan/penjajahan pihak-pihak asing.
Nabi Isa membawa kerajaan Ruhani (Yoh. 18:36). MGA juga membawa kerajaan Ruhani, menolak menjadikan ahmadiyah organisasi politik, mendirikan kekhalifahan (sejak 1908 s.d saat ini) berupa kerajaan Ruhani, yang tiada batas negara, kedaulatan, pemerintahan, dan politik.
Lebih sesat lagi, MGA yang mengaku bahwa Nabi Isa dan Imam Mahdi pribadi yang satu, yaitu dirinya, menafsirkan tanda-tanda alam, dan mencocokkannya dengan hadist-hadist tentang kedatangan Imam Mahdi:
Bagi kedatangan Mahdi, ada dua tanda alam yang belum pernah terjadi sejak Allah menciptakan langit dan bumi, yaitu gerhana bulan pada awal bulan Ramadhan, dan gerhana matahari pada pertengahan bulan Ramadhantersebut. Ini terjadi tahun 1311H/1894M, 4 tahun setelah MGA mengaku dia Isa Al Masih.
Apabila kamu melihat di sebelah timur api berkobar selama 3 hari atau 7 hari lamanya, Tahun 1883, Gunung Krakatau meletus. MGA menerima wahyu pertama kali sekitar tahun 1880.
Matahari terbit dari arah barat, Ahmadiyah menafsirkan matahari adalah cahaya kelimuan, kemajuan teknologi. Revolusi Industri bermula dari Inggris. Hak Azazi manusia pertama disyahkan di Inggris. Keilmuan berkembang pesat dari barat. Waktu pada titik 00.00 adalah garis yang melintas di Grenwicht, kota di Inggris.
Tugas Mahdi/Isa Masih menghancurkan Yahudi dan Nasrani, bukanlah berarti memerangi mereka secara fisik, tapi menghancurkan kepercayaan orang Nasrani dan Yahudi tersebut. Yahudi sangat yakin Isa adalah Nabi palsu, karena ternyata Isa mati di tiang salib. Nasrani, inti kepercayaan mereka adalah “bahwa Tuhan Yesus menjelma di dunia, untuk menebus dosa seluruh umat manusia dengan cara mati terkutuk di tiang salib” Kepercayaan ini hancur karena ternyata Isa tidak mati terkutuk di tiang salib. Ini berarti Isa a.s adalah Nabi yang benar. Ini berarti Isa a.s bukan Tuhan yang menjelma ke dunia tuk menebus dosa umat manusia.
Bagaimana dengan kepercayaan Islam yang menyatakan bahwa yang disalib itu Yudas (injil Barnabas). Semua kitab suci selain Al Quran diragukan keasliannya. Injil Barnabas juga diragukan keasliannya, karena kitab ini baru muncul saat Islam mengalami zaman keemasan di Spanyol. Manuskrip Injil Barnabas yang asli berbahasa Italia dan Spanyol, bukan bahasa Ibrani, bahasa asli Nabi Isa.
Kalau memang yang ditangkap Yudas, yang dipenjara Yudas, yang disiksa Yudas, jadi kenapa Nabi Isa diberi derajat Ulul Azmi, kalau dia tidak pernah menghadapi ujian berat. Sebagaimana Nabi Ulul Azmi lain menghadapi cobaan berat, Ibrahim dibakar – tetap hidup, Nuh menghadapi topan badai – tetap hidup, Musa melewati lautan – tetap hidup, Rasulullah berperang dan terluka parah – tetap hidup, demikian juga Isa, ia dikejar, ditangkap, dipenjara, disiksa, disalib – tetap hidup.
Demikianlah beberapa penyimpangan keyakina yang dilakukan MGA/Ahmadiyah yang tidak sesuai denganMainstream Kaum Muslimin di Seluruh Dunia. Semoga tulisan ini dapat dijadikan modal bagi setiap keluarga yang menganut Mainstream Kaum Muslimin di Seluruh Dunia untuk tidak terpengaruh dengan ajaran Ahmadiyah.
Bagaimana seharusnya pemerintah dan Mainstream Kaum Muslimin di Seluruh Dunia menyikapi keyakina Ahmadiyah yang sesat dan menyimpang ini? Sebagaimana pesan Rasulullah agar kita tetap berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.
Adakah warga Ahmadiyah melakukan perbuatan seperti yang dilakukan Nabi-Nabi palsu sebelumnya? Musailamah bin Kahzab menghasut kaum muslimin untuk tidak membayar zakat, dan tidak taat kepada Rasulullah Muhammad SAW. Musailamah ingin agar daerah Muslim dibagi dua, sebagian di bawah kekuasaan Muhammad, sebagian di bawah kekuasaan Musailamah. Musailamah pada awalnya mengucapkan syahadat, tapi kemudian mencabutnya.
Adakah Ahmadiyah merebut/merampas tanah umat Mulim? Adakah Ahmadiyah menolak membayar zakat? Adakah Ahmadiyah membenci Nabi Muhammad? Adakah Ahmadiyah menyia-nyiakan Al Quran? Adakah Ahmadiyah mengubah syahadat? Adakah Ahmadiyah menolak salah satu Rukun Iman dan Islam?
Motif utama Nabi-nabi palsu adalah kekuasaan dan kekayaan. Adakah Ahmadiyah ingin menguasai suatu negara? Sedangkan mereka tidak pernah bergerak di bidang politik.
Adakah orang Ahmadiyah memperkaya diri sendiri? Sedangkan kebanyakan harta mereka disumbangkan untuk membiayai Stasiun Televisi yang programnya hanya dakwah Islam ke seluruh dunia, membiayai sekolah para mubaligh, membangun sekolah-sekolah, rumah sakit, pelayanan bantuan kemanusiaan ke seluruh dunia tanpa pandang SARA. Ahmadiyah tercatat oraganisasi yang paling banyak mendaftarkan donor mata ke Bank Mata (lebih dari 700 orang donatur, untuk Indonesia saja).
Apakah keberadaan Ahmadiyah di dunia ini membuat kondisi umat Islam terpuruk dalam lembah kehinaan dan kenistaan? Sedangkan Zafrullah Khan (Ahmadi) bekas menteri Luar Negeri Pakistan selalu memperjuangkan hak-hak rakyat Palestin. Para Ahmadi juga selalu memberi dorongan moril bagi perjuangan Soakarno.
Arif Rahman Hakim, pejuang ampera, namanya diabadikan sebagai nama Masjid di UI Salemba, adalah seorang Ahmadi. Abdus Salam (Pakistan), peraih nobel fisika, muslim pertama penerima nobel, adalah ahmadi.
Masjid pertama berdiri di Spanyol setelah 700 tahun sejak kekalahan Muslim dalam perang salib adalah Masjid yang dibangun oleh Ahmadi. Di antara Muslim pelopor yang berdakwah dan mendirikan Masjid di negara-negara komunis seperti Hongaria, Polandia, Rusia, dan negara Eropa lainnya, Amerika, juga di negara Yahudi, Israel, adalah Ahmadiyah.
Ahmadiyah tidak pernah membuat malu agama Islam, hasil kerja keras Ahmadiyah dan jargonnya yang cinta damai membuat nama Islam semakin harum di mata dunia. Kesalahan Ahmadiyah hanyalah mereka mempercayai Nabi Isa sudah turun, karena tanda-tanda kiamat sudah terlihat. Kesalahan Ahmadiyah adalah bahwa mereka meyakini Allah SWT adalah Allah yang Maha Hidup, Allah SWT bukan Allah yang bisu Dia Al Malik, Dia Al Haadii, Dia Al Waali, Dia Al Hakam, Mutakallimun.
Apakah kesalahan-kesalahan tersebut bisa dijadikan dasar bagi kita untuk mencap Ahmadiyah keluar dari Islam, dan menghalalkan darah mereka. Sedangkan provokator pertama asal muasal Ahmadiyah di cap kafir adalah zaman Bhutto dan King Fadh. Semoga kita bisa bertabayyun, sama-sama membaca sejarah, Siapa Bhutto, siapa King Fadh, siapa Zafrullah Khan, siapa Pakistan, siapa Malaysia, dari mana kedua negara ini mendapat kemerdekaan.
Apakah Indonesia akan berkiblat pada Malaysia yang telah mencaplok salah satu pulau Indonesia, yang berusaha meng-HaKI-kan Rendang, Batik, Reog Ponorogo, yang jelas-jelas merupakan budaya asli Indonesia.
Apakah Indonesia akan berkiblat pada Pakistan, yang kita tahu sejarah politiknya yang penuh kudeta dan berdarah-darah.
Semoga Indonesia semakin dewasa dalam memperingati 100 tahun kebangkitannya. Semoga Indonesia semakin mandiri dan memiliki jati diri, sehingga segala keputusan diambil atas dasar cinta, kasih, dan sayang demi kemajuan bangsa dan negara tercinta. Karena Islam adalah Rahmatanlilalamin. Islam menyebarkan kasih bukan hanya untuk orang Islam, tapi untuk Indonesia, untuk dunia, untuk seluruh alam semesta.
