Jumat, 21 Oktober 2011
Senin, 17 Oktober 2011
Reparasi Semangat Sumpah Pemuda
“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kalimat masyhur dari Bung Karno tersebut tidaklah berlebihan. Pemuda adalah pembawa perubahan. Ia adalah sosok yang memegang peranan penting dalam keberlangsungan suatu bangsa. Ia merupakan suatu kaum yang selalu identik dengan idealisme, kegesitan, kekuatan yang menjadi pelopor gerakan-gerakan perjuangan, bahkan revolusi. Namun, apakah “Pemuda Pengguncang Dunia” seperti yang diharapkan Bung Karno tersebut telah menjadi cerminan pemuda kita saat ini?
Yang Muda Yang Terlena
Berbagai fakta kekinian menunjukkan bahwa pemuda saat ini semakin hanyut dalam kemaksiatan. Pada kasus penyalahgunaan narkoba, tercatat 19 persen dari jumlah remaja Indonesia atau sekitar 14 ribu remaja terindikasi sebagai pengguna narkoba (dinsos.jakarta.go.id, 31/1/10). Sementara yang tak kalah mengejutkan adalah data dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2010. Diperkirakan setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,4 juta jiwa, 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja. Selaras dengan hal tersebut, sekitar 51 persen remaja di Jabodetabek telah melakukan hubungan seks pranikah (tribunnews.com, 1/12/10).
Disusul dengan laporan Kementerian Kesehatan Triwulan Kedua per Juli 2011 yang menyatakan sampai dengan Juni 2011 saja secara kumulatif jumlah kasus AIDS yang dilaporkan adalah 26.483 kasus. Sebanyak 33 provinsi dan 300 kabupaten/kota yang melapor. Cara penularan yang paling tinggi adalah melalui heteroseksual (54,8 %) dengan proporsi tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (46,4 %). Gubernur, Irwan Prayitno pun dikejutkan oleh pemaparan dari Kadis Kesehatan Sumbar. Sumatera Barat meraih rangking ke 12 penderita HIV/AIDS dari 33 provinsi se Indonesia (aidsindonesia.or.id, 26/8/10).
Angka pengangguran pemuda kita juga masih tinggi. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) pada 2009, jumlah pemuda Indonesia yang kini masih menganggur mencapai 17 persen dari 70 juta jiwa, atau sekitar 12 juta pemuda. Sebagian besar dari mereka hidup dalam kondisi miskin dan berpendidikan rendah. Kondisi tersebut akhirnya menyebabkan pemuda Indonesia berada dalam lingkaran penyakit social (jurnalnasional.com, 2/6/10).
Di saat yang sama, anarkisme pemuda terlihat semakin menggeliat. Aksi tawuran pelajar atau mahasiswa sering muncul dalam berita di berbagai media massa. Hasil riset Institut Perdamaian Titian tahun 2008 menyatakan bahwa rata-rata setiap satu setengah hari terjadi tawuran di Indonesia. Bukannya menurun, pada pertengahan tahun 2010 meningkat jadi 752 insiden. Jika dibagi per hari, berarti telah terjadi 4 insiden konflik dan kekerasan tiap hari. Jumlah yang sangat mencengangkan! Sementara keterlibatan mahasiswa pada tahun 2009 sejumlah 65 kali dan pada tahun 2010 beranjak naik menjadi 109 kali. Sedangkan keterlibatan siswa sebanyak 84 kali (titiandamai.or.id, 2010). Belum lagi sejumlah kasus kekerasan yang dilakukan senior terhadap juniornya.
Inilah sekelumit gambaran pemuda kita saat ini. Waktu hidupnya lebih banyak digunakan untuk mengejar kesenangan dunia. Fisik dan nyalinya yang kuat dijadikan modal tawuran bahkan tak segan dihancurkannya dengan narkoba. Mereka dicekoki pornografi dan pornoaksi. Menjadi pelaku sekaligus korbannya.
Memang tak terpungkiri, masih ada kaum muda yang membanggakan. Mengukir prestasi baik di dalam maupun di luar negeri. Namun, mereka belum mampu membangkitkan bangsanya dengan kebangkitan yang hakiki.
Akar Masalah
Gaya hidup pemuda saat ini yang begitu semrawut sesungguhnya merupakan hasil dari diterapkannya ideologi sekuler-Kapitalisme. Pandangan hidup (way of life) inilah yang bercokol di benak pemuda. Termasuk di dalamnya hedonisme yang menjadikan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Aturan agama disisihkan dan hanya dijalankan sebagai kegiatan ritual saja.
Adapun gerakan-gerakan yang telah diusahakan segelintir kaum muda untuk memperbaiki kebobrokan negeri, belum membuahkan hasil yang diharapkan. Demokrasi masih diagung-agungkan sebagai satu-satunya solusi. Padahal, sistem ini sebagai hasil dari Kapitalisme adalah sumber segala permasalahan mereka. Betapa tidak? Dalam alam demokrasi, katanya yang berdaulat adalah rakyat. Tetapi realitasnya yang disebut rakyat hanyalah sekelompok orang yang memiliki kekuatan (baca: uang). Segala peraturan dan kebijakan adalah aspirasi pemilik modal, bukan rakyat dalam arti yang sebenarnya.
Pemuda pun tidak bersatu atas ikatan yang kuat. Nasionalisme yang digelorakan oleh semangat Sumpah Pemuda sejak lebih dari 80 tahun yang lalu nyatanya saat ini hanya menjadi wacana. Hal ini wajar karena Nasionalisme merupakan ikatan yang lahir dari naluri manusia untuk mempertahankan diri (survive). Sifatnya yang emosional dan bercakupan sempit akhirnya tak mampu mengikat pemuda untuk meraih kebangkitan yang awet.
Jika dulu Sumpah Pemuda mampu menggerakkan pemuda Indonesia untuk lepas dari belenggu penjajahan, namun kini tidak lagi. Ketika penjajahan fisik bertukar menjadi penjajahan intelektual (pemikiran), semangat perjuangan itu pun luntur. Padahal, inilah bentuk penjajahan yang lebih dahsyat. Bayangkan saja yang akan terjadi di masa depan. Kita akan kembali diduduki para imperialis lantaran generasi penerus telah lumpuh jiwa dan raganya.
Pemuda Islam Pembawa Kebangkitan yang Dinanti
Begitu banyak prestasi gemilang yang diukir oleh pemuda-pemuda Islam. Mulai dari bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sampai kepada pemerintahan dan militer. Sebut saja, Ibnu Sina yang digelari “Bapak Kedokteran Modern” yang sudah mempelajari kedokteran pada usia 16 tahun dan menemukan metode – metode baru dari perawatan. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib (The Canon of Medicine) yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad. Ada Al Biruni (astronomi, kedokteran, dan fisika), Ibnu Khaldun (Bapak Ilmu Sosiologi Politik), Ibnu Hitsam (Pelopor Ilmu Optik) dan banyak ilmuwan muda lainnya.
Prestasi yang tak kalah gemilang dari tangan seorang pemuda, Muhammad Al-Fatih. Menjabat sebagai khalifah di usia 22 tahun. Di bawah kepemimpinannya kaum muslimin berhasil menjemput kabar gembira dari Rasulullah yakni penaklukan kota Konstantinopel di bawah Kekaisaran Byzantium. Sebanyak 250 pasukan berhasil seberangkan 70 perahu melalui daratan berbukit terjal hanya dalam semalam (Selat Bosporus-Tanduk Emas). Cara yang tak pernah terbayangkan dan tak tertandingi oleh pasukan manapun sepanjang sejarah. Luar biasa! Ialah panglima terbaik dengan pasukan yang terbaik sesuai dengan janji Rasulullah Saw : “Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-hebat panglima perang adalah panglimanya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya” (HR Ahmad).
Bangkitlah Pemuda Zamrud Khatulistiwa!
Indonesia merupakan negeri mayoritas Muslim terbesar di dunia. Otomatis mayoritas pemudanya pun adalah Muslim. Ini sesungguhnya merupakan potensi yang sangat besar. Jumlah pemuda kita berdasarkan UU No. 40 Tahun 2009 dengan kategori umur pemuda 16 - 30 tahun, jumlah pemuda Indonesia pada tahun 2011 mencapai 62,92 juta jiwa (kppo.bappenas.go.id, 2009). Jumlah ini harusnya lebih besar lagi jika kategorinya berdasarkan hadist dari Ibnu Abbas r.a. berikut : “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (yakni antara 30 - 40 tahun). Begitu pula tidak ada seorang alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia (hanya) dari kalangan pemuda saja.”
Potensi kuantitatif ini tak akan berarti apa-apa jika tidak ditunjang secara kualitatif. Pemuda Muslim harus kembali pada perannya sebagai pembawa perubahan dan kemuliaan bagi umat. Menjadikan Islam sebagai way of life-nya. Pemuda yang sarat ilmu dan bertakwa, seperti yang dikatakan Imam Asy Syafii rahimahullah : "Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan)."
Pemuda harus bergerak untuk memberangus “penjajahan baru” yang tengah melanda kita. Bergerak dengan landasan yang “baru” pula yaitu ketaqwaan, bukan hanya semangat belaka yang musiman. Bukan lagi dengan semangat lokal semacam Nasionalisme. Sebab, masalah yang kita hadapi saat ini bersifat global, maka dibutuhkan dorongan yang bersifat global pula. Spirit perubahan secara global itu tak bisa diwadahi oleh Sumpah Pemuda. Terlebih, semangat ini tidaklah mendapat kemuliaan di sisi Allah SWT. “Tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyeru kepada fanatisme golongan/ashabiyah (Nasionalisme, dsb). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang berperang atas dasar ashabiyah. Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang terbunuh atas nama ashabiyah.” (HR. Abu Dawud).
Kebangkitan pemuda dapat diwujudkan dengan bersatunya pemikiran, perasaan dan tekad mereka. Satu-satunya yang menjadi pengikat pemuda muslim adalah akidah mereka. Sebab, akidahlah yang menggerakkan perjuangan dan menjadikan mereka bersaudara ibarat “satu tubuh”. Menyadari konsekuensi dari akidah akan membangkitkan kita untuk mengubah keadaan yang terpuruk ini. Hal ini telah diwujudkan oleh generasi silam sehingga Islam Berjaya selama 14 abad memayungi dua per tiga belahan bumi! Saat itu umat Islam mampu bersatu dalam satu kepemimpinan, Khilafah Islamiyah yang dipimpin oleh hanya seorang khalifah. Padahal wilayahnya terbentang dari benua Asia hingga Eropa yang terdiri dari beragam suku, bangsa dan agama.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raaf:96 : “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka dari itu, saatnya pemuda bangkit dengan berjuang menyeru umat untuk sungguh-sungguh beriman dan bertakwa. Sungguh-sungguh dalam menjalankan semua perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya. Semoga momentum Sumpah Pemuda ini dapat menjadi momentum introspeksi bagi pemuda Indonesia untuk mereparasi semangat perjuangannya. Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Relakah kita terus tersilaukan sampai nanti hanya dapat menyesali diri? Tentu tidak!
Rini Ramadhian, pelajar di Padang.
Yang Muda Yang Terlena
Berbagai fakta kekinian menunjukkan bahwa pemuda saat ini semakin hanyut dalam kemaksiatan. Pada kasus penyalahgunaan narkoba, tercatat 19 persen dari jumlah remaja Indonesia atau sekitar 14 ribu remaja terindikasi sebagai pengguna narkoba (dinsos.jakarta.go.id, 31/1/10). Sementara yang tak kalah mengejutkan adalah data dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2010. Diperkirakan setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,4 juta jiwa, 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja. Selaras dengan hal tersebut, sekitar 51 persen remaja di Jabodetabek telah melakukan hubungan seks pranikah (tribunnews.com, 1/12/10).
Disusul dengan laporan Kementerian Kesehatan Triwulan Kedua per Juli 2011 yang menyatakan sampai dengan Juni 2011 saja secara kumulatif jumlah kasus AIDS yang dilaporkan adalah 26.483 kasus. Sebanyak 33 provinsi dan 300 kabupaten/kota yang melapor. Cara penularan yang paling tinggi adalah melalui heteroseksual (54,8 %) dengan proporsi tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (46,4 %). Gubernur, Irwan Prayitno pun dikejutkan oleh pemaparan dari Kadis Kesehatan Sumbar. Sumatera Barat meraih rangking ke 12 penderita HIV/AIDS dari 33 provinsi se Indonesia (aidsindonesia.or.id, 26/8/10).
Angka pengangguran pemuda kita juga masih tinggi. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) pada 2009, jumlah pemuda Indonesia yang kini masih menganggur mencapai 17 persen dari 70 juta jiwa, atau sekitar 12 juta pemuda. Sebagian besar dari mereka hidup dalam kondisi miskin dan berpendidikan rendah. Kondisi tersebut akhirnya menyebabkan pemuda Indonesia berada dalam lingkaran penyakit social (jurnalnasional.com, 2/6/10).
Di saat yang sama, anarkisme pemuda terlihat semakin menggeliat. Aksi tawuran pelajar atau mahasiswa sering muncul dalam berita di berbagai media massa. Hasil riset Institut Perdamaian Titian tahun 2008 menyatakan bahwa rata-rata setiap satu setengah hari terjadi tawuran di Indonesia. Bukannya menurun, pada pertengahan tahun 2010 meningkat jadi 752 insiden. Jika dibagi per hari, berarti telah terjadi 4 insiden konflik dan kekerasan tiap hari. Jumlah yang sangat mencengangkan! Sementara keterlibatan mahasiswa pada tahun 2009 sejumlah 65 kali dan pada tahun 2010 beranjak naik menjadi 109 kali. Sedangkan keterlibatan siswa sebanyak 84 kali (titiandamai.or.id, 2010). Belum lagi sejumlah kasus kekerasan yang dilakukan senior terhadap juniornya.
Inilah sekelumit gambaran pemuda kita saat ini. Waktu hidupnya lebih banyak digunakan untuk mengejar kesenangan dunia. Fisik dan nyalinya yang kuat dijadikan modal tawuran bahkan tak segan dihancurkannya dengan narkoba. Mereka dicekoki pornografi dan pornoaksi. Menjadi pelaku sekaligus korbannya.
Memang tak terpungkiri, masih ada kaum muda yang membanggakan. Mengukir prestasi baik di dalam maupun di luar negeri. Namun, mereka belum mampu membangkitkan bangsanya dengan kebangkitan yang hakiki.
Akar Masalah
Gaya hidup pemuda saat ini yang begitu semrawut sesungguhnya merupakan hasil dari diterapkannya ideologi sekuler-Kapitalisme. Pandangan hidup (way of life) inilah yang bercokol di benak pemuda. Termasuk di dalamnya hedonisme yang menjadikan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Aturan agama disisihkan dan hanya dijalankan sebagai kegiatan ritual saja.
Adapun gerakan-gerakan yang telah diusahakan segelintir kaum muda untuk memperbaiki kebobrokan negeri, belum membuahkan hasil yang diharapkan. Demokrasi masih diagung-agungkan sebagai satu-satunya solusi. Padahal, sistem ini sebagai hasil dari Kapitalisme adalah sumber segala permasalahan mereka. Betapa tidak? Dalam alam demokrasi, katanya yang berdaulat adalah rakyat. Tetapi realitasnya yang disebut rakyat hanyalah sekelompok orang yang memiliki kekuatan (baca: uang). Segala peraturan dan kebijakan adalah aspirasi pemilik modal, bukan rakyat dalam arti yang sebenarnya.
Pemuda pun tidak bersatu atas ikatan yang kuat. Nasionalisme yang digelorakan oleh semangat Sumpah Pemuda sejak lebih dari 80 tahun yang lalu nyatanya saat ini hanya menjadi wacana. Hal ini wajar karena Nasionalisme merupakan ikatan yang lahir dari naluri manusia untuk mempertahankan diri (survive). Sifatnya yang emosional dan bercakupan sempit akhirnya tak mampu mengikat pemuda untuk meraih kebangkitan yang awet.
Jika dulu Sumpah Pemuda mampu menggerakkan pemuda Indonesia untuk lepas dari belenggu penjajahan, namun kini tidak lagi. Ketika penjajahan fisik bertukar menjadi penjajahan intelektual (pemikiran), semangat perjuangan itu pun luntur. Padahal, inilah bentuk penjajahan yang lebih dahsyat. Bayangkan saja yang akan terjadi di masa depan. Kita akan kembali diduduki para imperialis lantaran generasi penerus telah lumpuh jiwa dan raganya.
Pemuda Islam Pembawa Kebangkitan yang Dinanti
Begitu banyak prestasi gemilang yang diukir oleh pemuda-pemuda Islam. Mulai dari bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sampai kepada pemerintahan dan militer. Sebut saja, Ibnu Sina yang digelari “Bapak Kedokteran Modern” yang sudah mempelajari kedokteran pada usia 16 tahun dan menemukan metode – metode baru dari perawatan. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib (The Canon of Medicine) yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad. Ada Al Biruni (astronomi, kedokteran, dan fisika), Ibnu Khaldun (Bapak Ilmu Sosiologi Politik), Ibnu Hitsam (Pelopor Ilmu Optik) dan banyak ilmuwan muda lainnya.
Prestasi yang tak kalah gemilang dari tangan seorang pemuda, Muhammad Al-Fatih. Menjabat sebagai khalifah di usia 22 tahun. Di bawah kepemimpinannya kaum muslimin berhasil menjemput kabar gembira dari Rasulullah yakni penaklukan kota Konstantinopel di bawah Kekaisaran Byzantium. Sebanyak 250 pasukan berhasil seberangkan 70 perahu melalui daratan berbukit terjal hanya dalam semalam (Selat Bosporus-Tanduk Emas). Cara yang tak pernah terbayangkan dan tak tertandingi oleh pasukan manapun sepanjang sejarah. Luar biasa! Ialah panglima terbaik dengan pasukan yang terbaik sesuai dengan janji Rasulullah Saw : “Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-hebat panglima perang adalah panglimanya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya” (HR Ahmad).
Bangkitlah Pemuda Zamrud Khatulistiwa!
Indonesia merupakan negeri mayoritas Muslim terbesar di dunia. Otomatis mayoritas pemudanya pun adalah Muslim. Ini sesungguhnya merupakan potensi yang sangat besar. Jumlah pemuda kita berdasarkan UU No. 40 Tahun 2009 dengan kategori umur pemuda 16 - 30 tahun, jumlah pemuda Indonesia pada tahun 2011 mencapai 62,92 juta jiwa (kppo.bappenas.go.id, 2009). Jumlah ini harusnya lebih besar lagi jika kategorinya berdasarkan hadist dari Ibnu Abbas r.a. berikut : “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (yakni antara 30 - 40 tahun). Begitu pula tidak ada seorang alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia (hanya) dari kalangan pemuda saja.”
Potensi kuantitatif ini tak akan berarti apa-apa jika tidak ditunjang secara kualitatif. Pemuda Muslim harus kembali pada perannya sebagai pembawa perubahan dan kemuliaan bagi umat. Menjadikan Islam sebagai way of life-nya. Pemuda yang sarat ilmu dan bertakwa, seperti yang dikatakan Imam Asy Syafii rahimahullah : "Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan)."
Pemuda harus bergerak untuk memberangus “penjajahan baru” yang tengah melanda kita. Bergerak dengan landasan yang “baru” pula yaitu ketaqwaan, bukan hanya semangat belaka yang musiman. Bukan lagi dengan semangat lokal semacam Nasionalisme. Sebab, masalah yang kita hadapi saat ini bersifat global, maka dibutuhkan dorongan yang bersifat global pula. Spirit perubahan secara global itu tak bisa diwadahi oleh Sumpah Pemuda. Terlebih, semangat ini tidaklah mendapat kemuliaan di sisi Allah SWT. “Tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyeru kepada fanatisme golongan/ashabiyah (Nasionalisme, dsb). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang berperang atas dasar ashabiyah. Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang terbunuh atas nama ashabiyah.” (HR. Abu Dawud).
Kebangkitan pemuda dapat diwujudkan dengan bersatunya pemikiran, perasaan dan tekad mereka. Satu-satunya yang menjadi pengikat pemuda muslim adalah akidah mereka. Sebab, akidahlah yang menggerakkan perjuangan dan menjadikan mereka bersaudara ibarat “satu tubuh”. Menyadari konsekuensi dari akidah akan membangkitkan kita untuk mengubah keadaan yang terpuruk ini. Hal ini telah diwujudkan oleh generasi silam sehingga Islam Berjaya selama 14 abad memayungi dua per tiga belahan bumi! Saat itu umat Islam mampu bersatu dalam satu kepemimpinan, Khilafah Islamiyah yang dipimpin oleh hanya seorang khalifah. Padahal wilayahnya terbentang dari benua Asia hingga Eropa yang terdiri dari beragam suku, bangsa dan agama.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raaf:96 : “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka dari itu, saatnya pemuda bangkit dengan berjuang menyeru umat untuk sungguh-sungguh beriman dan bertakwa. Sungguh-sungguh dalam menjalankan semua perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya. Semoga momentum Sumpah Pemuda ini dapat menjadi momentum introspeksi bagi pemuda Indonesia untuk mereparasi semangat perjuangannya. Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Relakah kita terus tersilaukan sampai nanti hanya dapat menyesali diri? Tentu tidak!
Rini Ramadhian, pelajar di Padang.
Langganan:
Komentar (Atom)
