Senin, 17 Oktober 2011

Reparasi Semangat Sumpah Pemuda

“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kalimat masyhur dari Bung Karno tersebut tidaklah berlebihan. Pemuda adalah pembawa perubahan. Ia adalah sosok yang memegang peranan penting dalam keberlangsungan suatu bangsa. Ia merupakan suatu kaum yang selalu identik dengan idealisme, kegesitan, kekuatan yang menjadi pelopor gerakan-gerakan perjuangan, bahkan revolusi. Namun, apakah “Pemuda Pengguncang Dunia” seperti yang diharapkan Bung Karno tersebut telah menjadi cerminan pemuda kita saat ini?
Yang Muda Yang Terlena
Berbagai fakta kekinian menunjukkan bahwa pemuda saat ini semakin hanyut dalam kemaksiatan. Pada kasus penyalahgunaan narkoba, tercatat 19 persen dari jumlah remaja Indonesia atau sekitar 14 ribu remaja terindikasi sebagai pengguna narkoba (dinsos.jakarta.go.id, 31/1/10). Sementara yang tak kalah mengejutkan adalah data dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2010. Diperkirakan setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,4 juta jiwa, 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja. Selaras dengan hal tersebut, sekitar 51 persen remaja di Jabodetabek telah melakukan hubungan seks pranikah (tribunnews.com, 1/12/10).
Disusul dengan laporan Kementerian Kesehatan Triwulan Kedua per Juli 2011 yang menyatakan sampai dengan Juni 2011 saja secara kumulatif jumlah kasus AIDS yang dilaporkan adalah 26.483 kasus. Sebanyak 33 provinsi dan 300 kabupaten/kota yang melapor. Cara penularan yang paling tinggi adalah melalui heteroseksual (54,8 %) dengan proporsi tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (46,4 %). Gubernur, Irwan Prayitno pun dikejutkan oleh pemaparan dari Kadis Kesehatan Sumbar. Sumatera Barat meraih rangking ke 12 penderita HIV/AIDS dari 33 provinsi se Indonesia (aidsindonesia.or.id, 26/8/10).
Angka pengangguran pemuda kita juga masih tinggi. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) pada 2009, jumlah pemuda Indonesia yang kini masih menganggur mencapai 17 persen dari 70 juta jiwa, atau sekitar 12 juta pemuda. Sebagian besar dari mereka hidup dalam kondisi miskin dan berpendidikan rendah. Kondisi tersebut akhirnya menyebabkan pemuda Indonesia berada dalam lingkaran penyakit social (jurnalnasional.com, 2/6/10).
Di saat yang sama, anarkisme pemuda terlihat semakin menggeliat. Aksi tawuran pelajar atau mahasiswa sering muncul dalam berita di berbagai media massa. Hasil riset Institut Perdamaian Titian tahun 2008 menyatakan bahwa rata-rata setiap satu setengah hari terjadi tawuran di Indonesia. Bukannya menurun, pada pertengahan tahun 2010 meningkat jadi 752 insiden. Jika dibagi per hari, berarti telah terjadi 4 insiden konflik dan kekerasan tiap hari. Jumlah yang sangat mencengangkan! Sementara keterlibatan mahasiswa pada tahun 2009 sejumlah 65 kali dan pada tahun 2010 beranjak naik menjadi 109 kali. Sedangkan keterlibatan siswa sebanyak 84 kali (titiandamai.or.id, 2010). Belum lagi sejumlah kasus kekerasan yang dilakukan senior terhadap juniornya.
Inilah sekelumit gambaran pemuda kita saat ini. Waktu hidupnya lebih banyak digunakan untuk mengejar kesenangan dunia. Fisik dan nyalinya yang kuat dijadikan modal tawuran bahkan tak segan dihancurkannya dengan narkoba. Mereka dicekoki pornografi dan pornoaksi. Menjadi pelaku sekaligus korbannya.
Memang tak terpungkiri, masih ada kaum muda yang membanggakan. Mengukir prestasi baik di dalam maupun di luar negeri. Namun, mereka belum mampu membangkitkan bangsanya dengan kebangkitan yang hakiki.
Akar Masalah
Gaya hidup pemuda saat ini yang begitu semrawut sesungguhnya merupakan hasil dari diterapkannya ideologi sekuler-Kapitalisme. Pandangan hidup (way of life) inilah yang bercokol di benak pemuda. Termasuk di dalamnya hedonisme yang menjadikan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Aturan agama disisihkan dan hanya dijalankan sebagai kegiatan ritual saja.
Adapun gerakan-gerakan yang telah diusahakan segelintir kaum muda untuk memperbaiki kebobrokan negeri, belum membuahkan hasil yang diharapkan. Demokrasi masih diagung-agungkan sebagai satu-satunya solusi. Padahal, sistem ini sebagai hasil dari Kapitalisme adalah sumber segala permasalahan mereka. Betapa tidak? Dalam alam demokrasi, katanya yang berdaulat adalah rakyat. Tetapi realitasnya yang disebut rakyat hanyalah sekelompok orang yang memiliki kekuatan (baca: uang). Segala peraturan dan kebijakan adalah aspirasi pemilik modal, bukan rakyat dalam arti yang sebenarnya.
Pemuda pun tidak bersatu atas ikatan yang kuat. Nasionalisme yang digelorakan oleh semangat Sumpah Pemuda sejak lebih dari 80 tahun yang lalu nyatanya saat ini hanya menjadi wacana. Hal ini wajar karena Nasionalisme merupakan ikatan yang lahir dari naluri manusia untuk mempertahankan diri (survive). Sifatnya yang emosional dan bercakupan sempit akhirnya tak mampu mengikat pemuda untuk meraih kebangkitan yang awet.
Jika dulu Sumpah Pemuda mampu menggerakkan pemuda Indonesia untuk lepas dari belenggu penjajahan, namun kini tidak lagi. Ketika penjajahan fisik bertukar menjadi penjajahan intelektual (pemikiran), semangat perjuangan itu pun luntur. Padahal, inilah bentuk penjajahan yang lebih dahsyat. Bayangkan saja yang akan terjadi di masa depan. Kita akan kembali diduduki para imperialis lantaran generasi penerus telah lumpuh jiwa dan raganya.
Pemuda Islam Pembawa Kebangkitan yang Dinanti
Begitu banyak prestasi gemilang yang diukir oleh pemuda-pemuda Islam. Mulai dari bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sampai kepada pemerintahan dan militer. Sebut saja, Ibnu Sina yang digelari “Bapak Kedokteran Modern” yang sudah mempelajari kedokteran pada usia 16 tahun dan menemukan metode – metode baru dari perawatan. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib (The Canon of Medicine) yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad. Ada Al Biruni (astronomi, kedokteran, dan fisika), Ibnu Khaldun (Bapak Ilmu Sosiologi Politik), Ibnu Hitsam (Pelopor Ilmu Optik) dan banyak ilmuwan muda lainnya.
Prestasi yang tak kalah gemilang dari tangan seorang pemuda, Muhammad Al-Fatih. Menjabat sebagai khalifah di usia 22 tahun. Di bawah kepemimpinannya kaum muslimin berhasil menjemput kabar gembira dari Rasulullah yakni penaklukan kota Konstantinopel di bawah Kekaisaran Byzantium. Sebanyak 250 pasukan berhasil seberangkan 70 perahu melalui daratan berbukit terjal hanya dalam semalam (Selat Bosporus-Tanduk Emas). Cara yang tak pernah terbayangkan dan tak tertandingi oleh pasukan manapun sepanjang sejarah. Luar biasa! Ialah panglima terbaik dengan pasukan yang terbaik sesuai dengan janji Rasulullah Saw : “Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-hebat panglima perang adalah panglimanya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya” (HR Ahmad).
Bangkitlah Pemuda Zamrud Khatulistiwa!
Indonesia merupakan negeri mayoritas Muslim terbesar di dunia. Otomatis mayoritas pemudanya pun adalah Muslim. Ini sesungguhnya merupakan potensi yang sangat besar. Jumlah pemuda kita berdasarkan UU No. 40 Tahun 2009 dengan kategori umur pemuda 16 - 30 tahun, jumlah pemuda Indonesia pada tahun 2011 mencapai 62,92 juta jiwa (kppo.bappenas.go.id, 2009). Jumlah ini harusnya lebih besar lagi jika kategorinya berdasarkan hadist dari Ibnu Abbas r.a. berikut : “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (yakni antara 30 - 40 tahun). Begitu pula tidak ada seorang alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia (hanya) dari kalangan pemuda saja.”
Potensi kuantitatif ini tak akan berarti apa-apa jika tidak ditunjang secara kualitatif. Pemuda Muslim harus kembali pada perannya sebagai pembawa perubahan dan kemuliaan bagi umat. Menjadikan Islam sebagai way of life-nya. Pemuda yang sarat ilmu dan bertakwa, seperti yang dikatakan Imam Asy Syafii rahimahullah : "Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan)."
Pemuda harus bergerak untuk memberangus “penjajahan baru” yang tengah melanda kita. Bergerak dengan landasan yang “baru” pula yaitu ketaqwaan, bukan hanya semangat belaka yang musiman. Bukan lagi dengan semangat lokal semacam Nasionalisme. Sebab, masalah yang kita hadapi saat ini bersifat global, maka dibutuhkan dorongan yang bersifat global pula. Spirit perubahan secara global itu tak bisa diwadahi oleh Sumpah Pemuda. Terlebih, semangat ini tidaklah mendapat kemuliaan di sisi Allah SWT. “Tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyeru kepada fanatisme golongan/ashabiyah (Nasionalisme, dsb). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang berperang atas dasar ashabiyah. Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang terbunuh atas nama ashabiyah.” (HR. Abu Dawud).
Kebangkitan pemuda dapat diwujudkan dengan bersatunya pemikiran, perasaan dan tekad mereka. Satu-satunya yang menjadi pengikat pemuda muslim adalah akidah mereka. Sebab, akidahlah yang menggerakkan perjuangan dan menjadikan mereka bersaudara ibarat “satu tubuh”. Menyadari konsekuensi dari akidah akan membangkitkan kita untuk mengubah keadaan yang terpuruk ini. Hal ini telah diwujudkan oleh generasi silam sehingga Islam Berjaya selama 14 abad memayungi dua per tiga belahan bumi! Saat itu umat Islam mampu bersatu dalam satu kepemimpinan, Khilafah Islamiyah yang dipimpin oleh hanya seorang khalifah. Padahal wilayahnya terbentang dari benua Asia hingga Eropa yang terdiri dari beragam suku, bangsa dan agama.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raaf:96 : “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka dari itu, saatnya pemuda bangkit dengan berjuang menyeru umat untuk sungguh-sungguh beriman dan bertakwa. Sungguh-sungguh dalam menjalankan semua perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya. Semoga momentum Sumpah Pemuda ini dapat menjadi momentum introspeksi bagi pemuda Indonesia untuk mereparasi semangat perjuangannya. Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Relakah kita terus tersilaukan sampai nanti hanya dapat menyesali diri? Tentu tidak!

Rini Ramadhian, pelajar di Padang.

Kamis, 19 Mei 2011

Setelah UN, Mau Ngapain?

Alhamdulillah, buat kamu yang duduk di kelas 3 (atau kelas 12) SMA/SMK/MA, akhirnya selesai juga hajatan UN alias Ujian Nasional. Semoga hasilnya memuaskan ya, dan tentu saja kamu bisa lulus. Insya Allah. Gimana, ternyata cuma gitu-gitu aja ya? Hehehe… seperti biasa, soalnya sih gampang. Iya kan? Tetapi yang nggak gampang adalah menjawabnya. Gubrak! Sori, bukan mo ngeledekin, tapi faktanya emang gitu kan? Meski demikian, bagi kamu yang udah berusaha untuk rajin belajar dan tak kenal lelah untuk mengerjakan soal-soal latihan insya Allah mudah ya menjawab soal-soal UN kemarin.



Bro en Sis, semoga masa belajar yang kamu tempuh sejak SD hingga lulus SMA, berarti 12 tahun ya, cukup untuk menjadi bekal mengarungi kehidupan. Bagi kamu yang masih belum puas belajar, kuliah adalah pilihan tepat. Apalagi jika biayanya memang udah disiapin sama ortumu. Ambil kesempatan itu dan gunakan sebaik-baiknya. Tetapi bagi kamu yang kebetulan udah mentok, baik dari segi biaya maupun kemampuan akademik, jangan putus asa. Kesempatan kamu masih terbuka lebar untuk mengembangkan kemampuan.



Insya Allah bagi yang belajar di sekolah kejuruan nggak terlalu khawatir, karena bisa langsung bekerja di sektor industri sesuai keahlian yang dimiliki, tetapi bagi kamu yang lulusan SMA/MA agak sedikit berat. Meski tentu tetap harus semangat. Beratnya kenapa? Ya, karena dari segi keahlian tidak spesifik seperti kawan-kawan di sekolah kejuruan. Artinya, daya saing di sektor industri agak berat. Tetapi, tetap percaya diri saja. Insya Allah masih ada jalan untuk memperbaiki kualitas diri sehingga bisa tetap mendapat peluang untuk mengais rejeki, selama kamu terus mau belajar. Banyak kok, orang yang bisa survive meski tak memiliki selembar ijasah SMA karena SMP pun tak lulus. Bahkan keahliannya bisa diadu dengan mereka yang makan bangku kuliahan. Bener lho. Selalu ada jalan bagi orang yang mau berusaha. Insya Allah.



Ujian Nasional bagi siswa SMA dan SMK (termasuk MA) sudah berlalu pekan kemarin. Tinggal menunggu hasil. Semoga berhasil ya. Di awal Mei baru deh Ujian Nasional bagi kamu yang SMP, berikutnya lagi adalah SD. Bagi kamu yang masih SD atau SMP, pilihan tepat sebisa mungkin adalah melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tetapi bagi kamu yang udah SMA/SMK/MA, pilihannya jadi dua: melanjutkan pendidikan atau bekerja (tepatnya sih mencari nafkah). Sebab, mencari nafkah tidak harus dengan bekerja kepada orang lain, tetapi dengan berwirausaha pun insya Allah akan menghasilkan uang untuk nafkah pribadi dan untuk orang yang menjadi tanggungan kita, yakni orang tua. Setidaknya sebelum nikah.



Nah, gaulislam edisi ke-183 ini, insya Allah akan bahas sesuai judulnya: setelah UN, apa yang mau kita lakukan? Mau ngapain sih kita? Kalo nggak bisa kuliah, kita memilih bekerja/berusaha untuk dapetin rejeki. Kalo pun tetap mau kuliah tapi juga harus bekerja, maka bisa ditempuh dua-duanya. Bekerja untuk biayai kuliah. Nggak masalah. Selama kamu kuat melakukannya, bukan tak mungkin jika pada akhirnya kamu menuai kesuksesan. Insya Allah.



Jangan berhenti belajar

Bro en Sis, saya menuliskan subjudul ini maksudnya bahwa meski kamu udah lulus sekolah dan nggak ngelanjutin kuliah, tetapi belajar nggak boleh berhenti. Belajar apa saja yang sekiranya bisa membuat kamu jadi ahli. Bisa belajar dari orang lain, bisa membaca buku-buku mereka yang sudah sukses. Apa sajalah. Yang penting kamu bisa belajar dan mengasah terus kemampuanmu.



Jangan pernah bayangkan bahwa belajar itu sulit, belajar itu harus mahal, belajar itu harus serius. Nggak kok. Kita bisa belajar dengan mudah, murah, dan tentunya menghibur sehingga merasa enjoy dalam ngejalaninnya. Yup, intinya, sesuatu itu harus yang membuat kita merasa enjoy melaksanakannya. Sebab, kalo merasa beban karena bukan berangkat dari minat dan niat yang kuat, biasanya akan sedikit ada gangguan dalam proses belajar tersebut. Ujungnya bisa jadi malah nggak jalan.



Oya, yang perlu mendapat catatan khusus, bahwa kita rasa-rasanya tak mungkin belajar semua yang kita inginkan dari sekian disiplin ilmu dan keterampilan. Pilihlah satu bidang yang menjadi fokus belajar sesuai minat kita. Selebihnya boleh juga mengenal dan mengetahui bidang lain, meski nggak terlalu fokus. Intinya, sekadar tahu aja sebagai pelengkap potensi diri. Nggak mahir banget.



Ini bukan tanpa alasan. Sampai saat ini saya belum menemukan langsung ada orang yang serba bisa (mulitalent) dengan kemampuan yang sama bagusnya di tiap bidang yang dia bisa. Paling banter ada orang yang memiliki dua atau tiga keahlian dengan kualitas kemahiran yang sama bagusnya. Rata-rata sih dua keahlian yang dikuasai. Misalnya Buya Hamka, beliau ini handal dalam menulis maupun berbicara. Lidahnya setajam penanya. Begitu kira-kira gambarannya.

Kalo Bung Karno agak lain. Dia orator ulung. Cara berpidatonya hebat banget, meskipun tulisan-tulisannya kalo menurut saya sih biasa-biasa saja. Tapi tentu itu lebih baik daripada mereka yang menulis saja nggak bisa, berbicara juga berantakan. Maaf, barangkali hanya kentutnya saja yang lancar. Hehehe.. jangan ngambek ya kalo ada yang tersinggung dengan guyonan ini. Saya tidak bermaksud merendahkan tapi mencoba merenungkan saja. Barangkali memang ada hikmah yang bisa diambil untuk pembelajaran kita.



BTW, apa saja nih tips agar kita terus belajar tanpa henti meski usia terus bertambah bilangan angkanya. Ok. Ini ada beberapa tips yang bisa kamu coba:

Pertama, niatkan untuk ibadah. Ini penting banget. Sebab, insya Allah bakalan sia-sia setiap amalan yang TIDAK diniatkan untuk ibadah dan meraih ridho Allah. Harus diniatkan untuk ibadah dan ikhlas karena Allah ya.

Kedua, sabar dan telaten. Satu kebiasaan yang sering diamalkan oleh banyak orang adalah tergesa-gesa. Ingin cepat bisa, ingin segera terasa hasilnya. Padahal, faktanya tidaklah demikian. Butuh keuletan dan ketelitian. Keuletan dan ketelitian insya Allah bisa dijalani dengan enjoy apabila kita sabar. Cobalah terus belajar dengan sabar dan telaten, sebab benteng Mesir pun ditaklukkan tidak dengan sekali pertempuran.

Ketiga, serius. Perlu diperjelas bahwa serius bukanlah harus tegang dan kaku. Nggak kok. Maksudnya serius di sini adalah tak pernah mengabaikan setiap kesempatan untuk belajar. Belajar dan terus belajar. Tidak malas, pun tidak asal belajar.

Keempat, jangan menyerah. Harus kuat mental. Pembelajar yang handal pasti tak pernah menyerah meski sesulit apapun dalam proses belajar yang dijalaninya. Insya Allah.

Kelima, fokus. Ini sangat penting untuk mendapatkan hasil maksimal. Pilih satu keahlian yang diminati dan dinikmati dengan baik dan belajarlah untuk mengembangkannya.

Keenam, kreatif. Cobalah hal baru dalam belajar, jangan yang itu-itu saja. Jika perlu mencari bahan tambahan informasi dalam belajar melalui internet, belajarlah internet terlebih dahulu kalo belum bisa. Jika membutuhkan sarana multimedia untuk melejitkan potensi diri, tempuhlah dengan senang hati dan cari sumber-sumbernya. Kreativitas akan memberikan kekayaan nilai dalam belajar dan memaksimalkan pengembangan hasil belajarnya. Insya Allah.

Ketujuh, jangan cepat puas. Jangan berhenti di satu level terlalu lama. Boleh saja nikmati satu fase dari usaha kita, tapi jangan cepat puas. Sebaliknya, tingkatkan lagi level kemampuan kita untuk lebih mumpuni dan lebih baik lagi. Penyakit cepat puas adalah ‘pembunuh’ efektif dalam proses pembelajaran. Teruslah belajar. Jangan pernah berhenti.



Pikirkan masa depan akhirat (juga)

Sobat, kadang kita lupa. Kayaknya merasa bahwa hidup di dunia akan selamanya. Itu sebabnya, banyak orang seringkali lebih mementingkan mengejar dunia sampai lupa bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Dunia boleh dikejar, diraih, dinikmati. Tetapi jangan lupakan kehidupan akhirat yang sudah pasti kekal abadi.



Dalam firmanNya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi (QS al-Qashash [28]: 77)



Dalam ayat ini Allah Ta’ala menekankan untuk meraih kehidupan akhirat, tetapi jangan lupakan dunia. Kalo kita, ternyata malah memilih kebalikannya. Kejar terus dunia, tetapi untuk kehidupan akhirat malah seperlunya aja. Shalat hanya dilakukan ketika sedang dirundung masalah. Rajin baca al-Quran ketika takut gangguan jin. Dengan kata lain, bekal untuk mengarungi kehidupan akhirat yang kekal abadi malah minim atau bahkan nggak diperhitungkan sama sekali. Aduh, jangan sampe deh.



Bro en Sis, Ujian Nasional bukan akhir dalam proses belajar kita. Itu baru satu etape kehidupan saja. Masih banyak etape lain yang akan dilalui dan tentu saja memerlukan pengetahuan yang benar dan baik agar bisa mengatasi kendala yang ada.



Meski dunia terus kita kejar, tetapi luangkan waktu lebih banyak untuk bekal di kehidupan akhirat. Apa itu bekalnya? Amal shalih dan terus memohon rahmat dan ampunan dari Allah Swt. agar kelak di akhirat kita dimasukkan ke surgaNya. Insya Allah.



Nah, karena kehidupan akhirat lebih kita perlukan, maka kita harus terus belajar untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal shalih kita. So, jangan bangga dulu kalo di KTP atau kartu pelajar tercantum Islam di kolom agama, jika praktiknya dalam kehidupan sehari-hari kita tak pernah beramal shalih, bahkan keimanan kita sudah ternodai dengan kekufuran, tauhid kita diselipi syirik. Jangan sampe deh!



Yuk mari, kita belajar Islam tak pernah henti. Ujian Nasional boleh berlalu, tetapi belajar untuk bekal akhirat kita wajib terus kita lakukan untuk meraih predikat mukmin sejati. Sip deh! [solihin: osolihin@gaulislam.com]

Senin, 09 Mei 2011

PKS: "Tak ada Negara Islam..., Itu ide kampungan sekali"

Posted by تان سليمانAnti Islam, nasional, Partai, Partai Keadilan Sejahtera 7:50 PM

JAKARTA- Mantan Menteri Peningkatan Produksi Negara Islam Indonesia (NII) Imam Supriyanto menyebut terbentuknya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memiliki hubungan historis dengan kelompok Darul Islam, cikal bakal NII.

Menanggapi testimoni Imam, PKS berharap keberadaan Ayah Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin, Danu Muhammad Hasan, sebagai mantan panglima miilter Darul Islam wilayah Cirebon Jawa Barat tidak langsung dikaitkan dengan PKS.

"Danu Muhammad itu memang bapaknya Pak Hilmi, tapi tak ada masalah dengan itu. Jangan membuat pelabelan-lah," kata Ketua DPP PKS Fahri Hamzah saat dihubungi wartawan, Kamis (5/5/2011).

PKS, sambung Fahri, konsisten dengan asas tunggal Pancasila. PKS mempertahankan konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang mengakomodir kebhinekaan agama, suku, dan ras. "Siapa pun konsep negara agama tak ada, PKS juga sudah menegaskan itu. Tak ada negara Islam, Kristen, atau Hindu. Itu ide kampungan sekali," tegas Fahri.

Dalam diskusi di ruang wartawan DPR, Imam menyebut Hilmi bersentuhan dengan kegiatan Ikhwanul Muslimin kala menempuh jalur pendidikan di Universitas Al Azhar di Mesir.

Semangat gerakan ini kemudian dibawa Hilmi ke Indonesia. Pola perekrutan untuk melebarkan sayap Ikhwanul dilakukan tertutup dengan menyasar pelajar dan mahasiswa. "Ikhwanul bergerak di parpol dan parlemen supaya ideologi Islam bisa terwujud dalam satu negara," katanya.

Momentum inilah yang dimanfaatkan untuk membentuk Partai Keadilan yang dalam perkembangannya menjadi PKS. "Gerakan underground masih berjalan hingga sekarang. Ini bisa dikonfirmasi dengan orang-orang yang masih menjabat dan sudah mantan. Tetapi hubungan PKS dengan NII hanya biologis dan historis," tandas Imam.

Suara Anak Negeri

kata yang terucap, disetiap nafas yang ku hela, di setiap obyek yang aku pandang, setiap jalan yang ku tapaki,semua terasa sesak.suram.terjal..

Aku hanya seorang diri disebuah negeri yang penuh dengan sandiwara kata.

Aku hanya seorang diri dalam riuhnya pesta kekuasaan.

Aku hanya seorang diri dalam gelap hilangnya keadilan. Disetiap

Aku hanya seorang diri dalam diam ku, dalam muak ku, dalam marah ku,dan dalam linagan air mata ku……

Haruskan aku seperti ini selamanya??selama hidupku???dan selama mereka buta tenggelam dalam dunia yang fana???

Aku disini hanya ingin mendapatkan Ridho Tuhan ku..

Aku disini hanya ingin menerapkan apa yang seharusnya di terapkan di muka bumi ini

Aku disini hanya ingin mendapat kemulyaan dari Tuhan ku

Sungguh Hanya Tuhan kulah yang ku tuju……

Tapi kenapa????kenapa semuanya seperti ini???

Aku ternodai oleh aturan dinegeri ini

Aku dihinakan dengan undang-undang sandiwara kata.

Aku di hianati oleh Amir ku……

Sampai kapan ini?????

Sampai kapan akan berakhir???

Aku milik Tuhan kutapi kenapa aku tak bisa menerapkan semua aturannya dalm diri ku juga orang-orang di seluruh pelosok dunia, tidak ada yang bisa menjaga Aqidah umat ini

Tak ada yang memberikan jaminan kemulyaan di dunia hingga menuju ke akhirat..

Inikah hidup????inikah sebenarnya hidup???Amir ku……

Mampukah kau mendengar rintihan hati ini????

Mampukah kau menyadari semua ini????

Mampukah kau……..

Kamis, 05 Mei 2011

Indonesia siaga satu

Maraknya teror bom yang ada di Indonesia membuat polisi terlebih tim gegana bekerja keras untuk mengusut tuntas kasus ini, mulai dari bom buku yang terjadi akhir maret lalu yang ditujukan pada pimpinan jaringan islam liberal(JIL),atas nama Ulil abshor,ketua pemuda Pancasila,ahmad dhani dan gores mere,sampai penjinakan rangakaian bom yang ada disekitar Gereja Christ Chatedral Serpong. Benang merah antara kejadian satu dengan kejadian lain terus di usut, Semua itu dilakukan semata-mata untuk menciptakan rasa aman dinegeri ini,hingga saat ini pemerintah menetapkan bahwa Indonesia berada pada posisi siaga satu, status ini akan berlanjut hingga minggu 24 april 2011.

Namun,sungguh disayangkan ketika Islam serasa dipojokkan dengan adanya teror bom ini,terlebih mereka yang berjuang untuk menegakkan syariah dan khilafah,memang benar itu adalah impian umat islam karena umat rindu dengan hukum-hukum yang bersal dari Allah,tetapi bukan seperti ini islam mengajarkan kepada umat dalam upaya menegakkan syariah dan khilafah di bumi ini. Metodologi yang digunakan adalah metodologi yang digunakan oleh Nabi Muhammad saw untuk mendirikan Negara Islam pertama di Madinah. Nabi Muhammad saw membatasi aktivitas penegakan Negara Islam pada ranah intelektual dan politik. Beliau saw mendirikan negara Islam tanpa menempuh jalan kekerasan. Beliau saw berjuang memobilisasi opini publik agar mendukung Islam dan berupaya mempengaruhi kelompok elit intelektual dan politik pada masanya. Meskipun mengalami beragam penyiksaan dan pemboikotan, Nabi Muhammad saw dan golongan Muslim perdana tidak pernah mengambil jalan kekerasan. Untuk itu umat islam yang berjuang menegakkan syariah dan khilafah mengadopsi perjuangan intelektual dan politik ini karena kami yakin ini merupakan jalan yang benar dan efektif untuk menegakkan kembali Khilafah Islam. Karena itu,secara proaktif menyebarkan pemikiran-pemikiran Islam, baik yang bersifat intelektual maupun politik, secara luas di masyarakat-masyarakat Muslim sembari menantang status quo yang ada,menyuarakan Islam sebagai jalan hidup yang komprehensif yang mampu menangani seluruh urusan bermasyarakat dan bernegara. kami juga mengemukakan pandangan-pandangannya terhadap peristiwa-peristiwa politik dan menganalisisnya dari perspektif Islam. Adapun menyebarkan pemikiran-pemikirannya melalui diskusi dengan masyarakat, lingkar studi, ceramah, seminar, pendistribusian leaflet, penerbitan buku dan majalah dan via Internet. Semua itu dirasa sangat efektif untuk saat ini,oleh karena itu dengan tegas,Islam bukanlah agama keras seperti yang tercemin sekarang.

Oleh sebab itu,asumsi bahwa islam adalah teroris haruslah dibuang jauh-jauh dari benak masyarakat karena itu sangat menyakitkan bagi umat islam yang bersungguh-sungguh menegakkan syariah dan khilafah dengan metode yang sesuai dengan manhaj kenabian.

mohon saran dan kritiknya.

_hoshi-

Senin, 28 Maret 2011

Sejahtera dibawah naungan daulah khilafah

http://pejuangsyariahdankhilafah.files.wordpress.com/2010/12/hidupberkahdalamnaungankhilafah.jpg?w=456&h=440&h=440

Selama tiga belas abad, kaum Muslim menikmati kemakmuran yang tak tertandingi melalui penerapan aturan-aturan Islam. Kemakmuran ini tidak hanya terbatas pada kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan obat-obatan, seperti yang kita sering dengar, melainkan juga pada semua aspek kehidupan; termasuk kesejahteraan sosial, kesehatan dan pendidikan.

Hal ini tidaklah aneh karena Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS al-Anbiya [21]: 107).

Pemeliharaan Kesehatan

Dalam Islam, kesehatan individu sangat dihargai, dan hal ini dianggap sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, bersama dengan makanan dan keamanan. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa pun yang dalam satu harinya bebas dari penyakit, aman dari gangguan orang lain, dan memiliki makanan pada hari itu, maka hal itu adalah seperti memiliki dunia seisinya.” (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dalam Islam, memberikan kesehatan gratis dan pemeliharaan kesehatan yang layak adalah tanggung jawab Daulah Islam terhadap semua warganya; baik mereka kaya-miskin, Muslim-non-Muslim. Rasulullah saw. bersabda:

Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari).

Memberikan kesehatan gratis kepada masyarakat adalah hal yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. di Madinah. Ibnu Ishaq melaporkan dalam buku Sirah-nya, bahwa sebuah kemah yang dibangun di masjid dan diberi nama seseorang yang bernama Rufaidah dari suku Aslam digunakan untuk memberikan diagnosis dan pengobatan untuk orang-orang secara gratis untuk orang-orang kaya maupun miskin. Ketika Saad bin Muadz ra. terkena panah selama Perang Khandaq, Rasulullah saw. mengatakan kepada para Sahabat untuk membawanya ke Kemah Rufaidah. Rufaidah dibayar oleh negara dari ghanimah sebagaimana yang disebutkan Al-Waqidi dalam bukunya yang berjudul Al-Maghazi.

Memberikan layanan kesehatan kepada warga negara terus berlanjut sepanjang Khilafah Islam dan kaum kafir sendiri yang menjadi saksi atas hal ini. Sebagai contoh, Gomar, salah seorang pemimpin pada masa Napoleon selama perang yang dilancarkan Prancis (1798-1801) untuk menduduki Mesir, menggambarkan pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan berusia 600 tahun yang ia lihat, “Semua orang sakit biasa pergi ke Bimaristan (rumah sakit) bagi kaum miskin dan kaum kaya, tanpa perbedaan. Dokter berasal dari banyak tempat di wilayah timur dan mereka juga mendapat bayaran yang baik. Ada apotek yang penuh dengan obat-obatan dan instrumentasi, dengan dua perawat yang melayani setiap pasien. Mereka yang memiliki gangguan fisik dan kejiwaan diisolasi dan dirawat secara terpisah. Mereka kemudian dihibur dengan cerita-cerita dari orang-orang yang telah sembuh (baik secara fisik maupun kejiwaan) dan akan dirawat di bagian rehabilitasi. Ketika mereka selesai dirawat, setiap pasien akan diberikan lima keping emas sehingga para mantan pasien itu tidak perlu bekerja segera setelah ia meninggalkan rumah sakit.”

Seorang orientalis Prancis, Prisse D’Avennes, menggambarkan rumah sakit yang sama dengan mengatakan, “Kamar-kamar pasien terasa dingin karena menggunakan kipas besar yang terpasang dari satu sisi ruang hingga ke sisi yang lain, atau terasa hangat karena parfum yang dihangatkan. Lantai-lantai kamar pasien itu ditutupi oleh cabang-cabang (Hinna) pohon delima atau pohon aromatik lainnya.”

Kesejahteraan

Kesejahteraan masyarakat ditunjukkan oleh hadis Rasulullah saw. bersabda, “Siapa pun yang meninggalkan uang, uang itu bagi yang mewarisinya, dan siapa pun yang meninggalkan anak yang lemah, maka (tanggungjawabnya) kepada kita.” (HR Muslim).

Dalam hal ini, negara bertanggung jawab untuk menyediakan kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal dan pakaian bagi mereka yang tidak mampu karena alasan apa pun. Kesejahteraan rakyat di bawah kekuasaan Islam adalah hasil dari penerapan hukum Allah SWT. Pemahaman bahwa Khilafah/Negara memiliki tanggung jawab terhadap rakyat adalah berdasarkan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar ra., sebagai khalifah saat itu, yang melayani seorang perempuan yang jompo dan buta yang tinggal di pinggiran Madinah. Khalifah Umar bin al-Khattab ra. ingin juga merawatnya, tetapi menemukan bahwa Khalifah Abu Bakar ra. telah memasak makanan, membersihkan rumah dan mencuci pakaiannya untuknya. Inilah pemahaman dan rasa tanggung jawab yang sama, yang membuat Umar ra., yang ketika itu adalah khalifah, untuk kembali ke Baitul Mal. Ia memikul sendiri karung gandum makanan untuk kembali menuju rumah seorang perempuan dan anak-anaknya yang tinggal di luar Madinah, lalu memasak makanan untuk mereka. Dia menolak tawaran para pembantunya untuk membawakan karung itu dengan mengatakan, “Maukah engkau memikul dosa-dosa saya dan tanggung jawab atas saya pada Hari Perhitungan?”

Perawatan kesehatan juga berlaku untuk anak-anak. Selama masa pemerintahan Khalifah Umar ra., ada kebijakan untuk memberikan upah setiap kali seorang anak selesai masa menyusui. Namun, suatu hari Khalifah Umar ra. mendengar seorang bayi menangis kemudian dia meminta kepada ibu anak itu untuk, “Bertakwalah kepada Allah SWT atas bayi Anda dan rawatlah dia.” Kemudian ibu itu menjelaskan bahwa dia berhenti menyusui anaknya lebih awal agar dia bisa menerima upah dari Negara. Keesokan harinya, setelah fajar, Khalifah Umar ra. merevisi kebijakan itu dengan membayar upah pada saat kelahiran. Khalifah Umar ra. takut Allah SWT akan meminta pertanggungjawabannya dan dia berkata sambil menangis, “Bahkan atas bayi-bayi, ya Umar!” — yang berarti bahwa ia akan diminta pertanggungjawaban karena tindakannya yang merugikan anak-anak.

Hewan-hewan juga dilindungi oleh sang Khalifah. Ibn Rusyd al-Qurthubi meriwayatkan dari Malik bahwa Khalifah Umar ra. Pernah melewati seekor keledai yang dibebani dengan tumpukan batu. Menyadari bahwa hewan itu terlihat menderita maka dia mengeluarkan dua tumpukan batu yang diambil dari bagian belakang. Pemilik keledai itu, seorang wanita tua, datang kepada Khalifah Umar ra. dan berkata, “Wahai Umar, apa yang kau lakukan dengan keledaiku? Apakah kamu memiliki hak untuk melakukan apa yang engkau lakukan?” Khalifah Umar ra. Mengatakan, “Apa yang menurutmu yang membuatku mau mengisi jabatan ini (Khalifah)?” Yang dimaksudkan oleh Khalifah Umar ra. adalah bahwa mengambil tanggung jawab sebagai khalifah, Umar ra. bertanggung jawab atas semua hukum Islam, yang meliputi pula tindakan yang disebutkan oleh hadis Rasulullah saw., “Berhati-hatilah untuk tidak membebani punggung hewan, karena dengannya Allah SWT telah membuat mereka bisa membawamu ke tempat-tempat yang sulit bagimu untuk mencapainya, dan menciptakan bumi sehingga kamu dapat memenuhi kebutuhanmu di atas muka bumi.” (HR Abu Dawud).

Artinya, kita harus mengasihi binatang dan tidak membebani mereka. Pola-pola penyediaan bagi orang-orang dan perawatan dengan baik bagi mereka berlanjut terus pada masa Khilafah sampai saat kehancurannya pada tahun 1924. Ibnu al-Jauzi melaporkan dalam bukunya mengenai masa hidup Khalifah Umar bin Abdul Aziz, bahwa Khalifah Umar ra. pernah bertanya kepada para gubernurnya di seluruh negeri untuk menghitung jumlah semua orang buta, orang-orang berpenyakit kronis dan orang-orang cacat. Dia kemudian memberikan seorang pemandu bagi setiap orang buta dan dua orang pembantu bagi setiap orang berpenyakit kronis atau orang cacat di seluruh negeri Islam yang membentang dari Cina di timur hingga ke Maroko di barat, dan Rusia di utara hingga ke Samudra Hindia di selatan. Ibnu al-Jauzi juga meriwayatkan bahwa Khalifah Umar ra. meminta para gubernur itu untuk membawa kepadanya orang-orang miskin dan tidak mampu. Begitu mereka datang, beliau memenuhi semua kebutuhan mereka yang diambil dari Baitul-Mal. Dia kemudian bertanya siapa di antara mereka yang punya hutang dan tidak mampu membayarnya. Ia kemudian membayarkan hutang-hutang mereka secara penuh dengan dana yang diambil dari Baitul-Mal. Lalu dia bertanya siapakah yang ingin menikah tetapi tidak mampu. Lalu ia membayar biaya untuk pernikahan mereka. Kesejahteraan dan kemakmuran rakyat di bawah kekuasaan Islam sedemikian baiknya selama masa pemerintahan Khilafah Umar bin Abdul Aziz sehingga negara tidak dapat menemukan orang-orang miskin yang berhak untuk mendapatkan zakat.

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa pada masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, Negara membangun dan merawat masjid-masjid, membangun jalan, memenuhi kebutuhan rakyat, memberi uang untuk orang-orang cacat dan orang-orang sakit dan memerintahkan mereka untuk tidak mengemis melainkan meminta kepada Negara jika mereka tidak memiliki sesuatu yang mencukupi mereka. Dialah khalifah pertama yang membangun dan melembagakan Bimaristan (rumah sakit). Ia menugaskan seorang pembantu bagi setiap orang cacat, seorang pemandu bagi setiap orang buta, memberikan gaji bagi para imam masjid dan membangun “pemondokan “ bagi para pendatang dari luar dan pelancong dimana pun di wilayah Daulah Islam tersebut.

Selama masa Khilafah Umayah dan Khilafah Abbasiyah, rute para pelancong dari Irak dan negeri-negeri Syam (sekarang Suriah, Yordania, Libanon dan Palestina) ke Hijaz (kawasan Makkah) telah dibangun dengan dilengkapi “pondokan” di sepanjang rute yang dilengkapi dengan persediaan air, makanan dan tempat tinggal sehari-hari untuk mempermudah perjalanan bagi mereka. Sisa-sisa fasilitas ini dapat dilihat pada hari ini di negeri-negeri Syam. Catatan mengenai wakaf untuk beberapa rumah sakit di negeri-negeri Syam membuktikan hal ini. Sebagai contoh, ada catatan tentang wakaf Rumah Sakit An-Nuri di Allepo (Suriah) yang menyebutkan bahwa bagi setiap orang sakit mental ditugaskan dua orang pembantu yang bertanggung jawab yang memandikannya sehari-hari, menggantikan dengan baju yang bersih, dan membantunya melakukan shalat (jika mereka dapat melakukannya) dan mendengarkan al-Quran, dan menemaninya berjalan/berada di udara terbuka untuk bersantai.

Khilafah Usmani melakukan kewajiban ini juga. Hal ini terlihat dalam melayani masyarakat dengan membangun jalan kereta Istanbul-Madina yang dikenal dengan nama “Hijaz” pada masa Sultan Abdul Hamid II untuk memudahkan perjalanan para peziarah ke Makkah serta untuk meningkatkan integrasi ekonomi dan politik di daerah Arab yang jauh. Kaum Muslim kemudian bergegas untuk menyumbang dan menjadi relawan untuk membangun jalur kereta api itu, Khilafah Usmani menawarkan jasa transportasi kepada orang-orang secara gratis.

Ini hanya sebuah gambaran mengenai bagaimana kehidupan masyarakat di bawah kekuasaan Islam dulu pada masa Khilafah. Semoga Allah SWT membantu kita semua bekerja untuk mewujudkannya dan membuat kita bisa menyaksikannya dan menikmati keberadaannya lagi. Amin. [RZ Aulia: www.khilafah.com]

dari http://pejuangsyariahdankhilafah.wordpress.com/2010/12/15/sejahter-di-bawah-naungan-syariah-khilafah/